New Life……. is it true?

Setelah sekian lama menjomblo (26 years and 1 month and 40 days) akhirnya hari-hari yang ditunggupun datang juga. Ya…. seperti foto diatas, mungkin semua rekan deskomers sudah tahu kalau aku mengakhiri masa lajang dengan Nina.
Hari yang kutunggu itupun datang seminggu yang lalu tepat jam 8.45 WIB di Masjid Al Iklhas kami sah dan halal menjadi suami istri. Terimakasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada seluruh anggota Deskomers01 yang senantiasa mendukung dan mensupport kami selama ini. Special Thanks juga kami tujukan kepada Ridja the Fotographer yang dengan begitu baiknya mengabadikan momen-momen bahagia kami. Sekalian ngiklan bagi yang membutuhkan jasa fotografer profesional silahkan menghubungi saudara Riza, dijamin memaskan dan terjangkau.
silahkan diamati foto deskomers yang turut hadir saat itu :

Tak lupa juga para female deskomers :

__________________________________________>&
New Life
Kenapa kok “New Life” ?? Kenapa setiap orang mengucapkan “Selamat Menempuh Hidup Baru “??
Menikah pada dasarnya adalah sebuah akhir dari kehidupan yang serba sendiri, ataupun jika kita masih tinggal bersama orang tua dan saudara mungkin kehidupan masih akan diramaikan dengan ramai saudara dan keluarga, namun intinya dengan menikah kita menemukan sebuah bentuk kehidupan yang serba berbagi, berbagi dengan seseorang yang tidak ada ikatan apapun sebelumnya. Sebuah kehidupan yang berbeda dengan apa yang kita jalani sebelumnya - sebuah kehidupan yang baru.
Mungkin tidak bisa kukatakan dengan banyak tentang pernikahan-sebab pengetahuan dan pengalamanpun masih minim-baru juga seminggu-namun akan kucoba untuk menunjukan betapa indahnya kehidupan baru tersebut dan betapa rumitnya kehidupan yang dinanti-nantikan tersebut. Seharusnya rekan-rekan deskomers lain yang jauh lebih berpengalaman menuliskannya di situs ini, tapi sepertinya belum ada yang memulai, jadi kumulai deh…………………..
Sebelum menikah kita pada umumnya telah menentukan pandangan akan siapa yang bakalan mendampingi hidup kita. Baik melalui prosedur pacaran atau tidak, setidaknya kita telah mematok sebuah target-target tentang apa yang menjadikan kita menjatuhkan pilihan ke orang lain- katakanlah karena kecantikan/ketampanannya, keturunannya, ekonomi atau karena akhlaknya. Itupun yang terjadi pada kita-kita memilih-milih satu sama lain dan dengan seleksi alam akhirnya kita sama-sama bersepakat untuk mengakhiri masa lajang dengan pernikahan.
Banyak orang yang beranggapan menikah itu asik, menikah butuh kesiapan mental, menikah butuh kekuatan finansial dan seterusnya. Namun setelah menikah kemaren satu saran untukku kepada teman-teman yang belum menikah “Menikahlah segera karena menikah itu luarbiasa enaknya“. Betapa tidak yang tadinya dilarang kini menjadi ibadah, yang tadinya harus sendiri kini semuanya serba berbagi, yang tadinya tidur bertamankan bantal guling kini tidur ditemani dengan sesosok tubuh hangat yang bisa di”apa-apakan”.
Jika berpegangan tangan saja dilarang (dalam Islam) ketika pacaran, kini setiap moment dimanfaatkan untuk saling berdekatan bahkan sangat dekat. Jika sebelumnya mencium bisa masuk ke kategori dosa kini setiap kecupan menjadi sebuah amalan ibadah. Luar biasa adalah kata-kata yang belum bisa menggambarkan nikmatnya pernikahan, karena begitu besar keindahannya-nyaris tak tergambarkan kenikmatannya. Mungkin inilah apa yang dirasakan semua orang saat-saat awal pernikahan.
Hihihi kalo membayangkan indahnya tak akan ada habisnya. Kehidupan baru memang indah, namun ada juga kesulitan-kesulitan yang tiba-tiba muncul. Menyatukan dua hati sangatlah sulit, dari hari ke hari akan tampak sifat asli masing-masing individu, sifat yang tidak anda duga sebelumnya. Terkadang kita terkejut dengan sifat/watak tersebut. Apa yang anda harapkan sebelumnya pun seakan-akan hilang dan timbul penyesalan kenapa harus memilih dia. Namun janganlah dengarkan perasaan seperti itu, karena sebenarnya perasaan itu datangnya dari setan yang mencoba mengusik pernikahan kita. Karena sudah halal dan menyenangkan suami/istri adalah ibadah, maka setan tidak rela sehingga berbagai bujukan berupa prasangka-prasangka terhadap pasangan akan muncul.
Kehidupan baru adalah awal yang didalamnya terdapat suka, suka, suka, senang, senang, lelah dan lelah hehehe…. meskipun didalamnya terkadang terdapat prasangka dan kekecewaan. Cobalah hitung kesenangan dengan kekecewaan itu, inshaAllah jumlah kesenangan dan ketentraman hati yang anda dapatkan setelah menikah jauuuh lebih banyak dibandingkan dengan prasangkan dan kekecewaan yang anda rasakan.
Memang benar menikah adalah setengah dari agama, ketenangan jiwa inshaAllah anda dapatkan ketika sholat bersama dengan yang anda cintai, ketika suapan-suapan makanan memasuki mulut kita, ketika bisikan-bisikan cinta melebur malam yang dingin, ketika jemari tangan terpaut saat berjalan berdua, ketika menikmati manisnya bibir gelas yang kita minum bersama pasangan kita, ketika satu sama lain menerima dengan ikhlas kekurangan dan kelebihan masing-masing. Untuk itu sekali lagi “segeralah penuhi setengah agama itu” sebelum anda bosen dengan pacar anda atau pacar anda bosen dengan anda-ikatlah dengan pertalian yang halal yanitu menikah ![]()