Chapter 4 - Lowland

Siang itu begitu panas, untunglah dedaunan hutan melindungi kedua orang yang sedang berjalan dibawah mereka dari sengatan cahaya Sang Mentari.

Kedua orang itu begitu berbeda. Si perempuan, Eve, berjalan dengan gagahnya di depan tanpa sekalipun melirik ke arah lain. Pandangan matanya tertancap lurus ke depan tak tergoyahkan apapun.

Sementara si laki-laki, Taufo, berjalan dengan menyeret tongkat, kaki tertekuk dan lidah terjulur keluar. Semua yang diperlihatkannya adalah tanda-tanda seseorang yang hampir mati dehidrasi, padahal tempat itu sangat sejuk.

“Eeeeve! Hooi! Berhenti bentar dooong…” seru Taufo dengan sisa-sisa air pada tubuhnya.

Tetapi Eve terus berjalan, sama sekali tidak mengindah-kan seruan Taufo, bahkan menoleh sedikitpun tidak.

Taufo yang jengkel lalu berhenti, menjulurkan lidahnya lagi, menarik kedua kantung matanya kebawah dengan tangan kanan, sementara telunjuk tangan kiri mendorong ujung hidungnya ke atas, mengejek Eve.

Tepat saat Taufo selesai melakukan gerakan anehnya, Eve berbalik, sebentuk bibir yang akan mengatakan “oke” terpaku disana meskipun tanpa ekspresi.

Taufo, yang masih menjulurkan lidahnya, menarik kedua kantung matanya kebawah dengan tangan kanan, sementara telunjuk tangan kiri mendorong ujung hidungnya ke atas mendapat tambahan sebentuk keringat di dahinya.

Sedetik kemudian Eve –masih tanpa ekspresi– menutup mulutnya, lalu berbalik dan berjalan menjauh dari Taufo seraya berkata “Nggak jadi!”

Beberapa saat berikutnya Taufo habiskan untuk minta maaf kepada Eve dengan cara yang “benar-benar minta maaf”. Menarik-narik baju Eve sambil merengek, berjalan dengan kedua lutut di samping Eve sambil kedua tangannya mengatup di depan dada, sampai pura-pura pingsan dengan telapak tangan kanan terbuka di atas dahi sementara salah satu matanya mengintip Eve yang tetap berjalan dengan gagahnya menghadap kedepan.

Akhirnya Taufo menyerah. Jengkel, dia berdiri, me-nyumpah-nyumpah sambil membersihkan debu di bagian belakang tubuhnya.

Mendadak wajah Taufo berubah, matanya menyipit melirik ke Eve sambil menyeringai nakal.

Hajag Kudud!” seru Taufo seraya menghentakkan tong-katnya ke tanah.

DOOONG!

Seekor Gajah duduk sedang menggendong Taufo yang sekarang mengenyot jempolnya dan memandang Eve seperti anak kecil yang sedang ditidurkan Ibunya.

Eve menoleh ke belakang melihat apa yang dilakukan Taufo. Setelah melihatnya sekilas, mata Eve mengarah ke atas beberapa saat lalu kembali mengarahkan pandangannya ke depan sambil terus berjalan.

Taufo menghembuskan nafasnya pelan lalu dengan malas menghentakkan tongkatnya ke tanah seraya mengucap-kan mantera

Ripasid!” yang diikuti dengan bunyi “POFF!” pelan dan si Gajah menghilang.

Pudda Konni!” seru Taufo sambil sekali lagi menghen-takkan tongkatnya ke tanah.

Eve menoleh sambil tetap berjalan mencari tahu apa yang dilakukan Taufo. Dan ketika dia melihat apa yang ada di depannya, Eve hanya bisa mengangkat alis kirinya keatas sementara alis kanan tetap di tempatnya dengan pandangan tanpa ekspresi lalu kembali menoleh ke depan sambil menggeleng kecil dengan ujung bibir sedikit terangkat.

Di belakangnya, seekor keledai yang meloncat-loncat tampak sangat gembira melewati jalan tanah itu. Sementara di punggungnya, Taufo sedang terlempar-lempar sekitar satu meter di udara diatas dengan tangan kanan menopang dagu dalam posisi duduk bersila dan kornea mata mengarah ke atas.

Eve, sementara itu tenyata sudah berhenti di pinggir sebuah jurang. Dia memandang ke bawah, lalu sekejap kemudian menoleh ke belakang.

“Fo! Lihat itu!” serunya sambil menunjuk ke jurang yang tadi dilihatnya.

“Ada apa?” tanya Taufo cepat seraya melompat dari atas keledai yang sekarang kepalanya terkulai, cemberut, matanya memandang Taufo –jengkel–, dan kepalanya benjol merah bekas pukulan.

Taufo sekarang sudah berdiri di pinggir jurang. Dia melihat ke bawah.

Sebuah kota terpapar disana, kota yang cukup luas dikelilingi bukit-bukit kecil di lereng Gunung Gokarna. Jala-nan dan rumah-rumah yang teratur tampak kecil dilihat dari tempat Taufo dan Eve berdiri.

“Jadi ini? Kota Lowland?” tanya Taufo berseri-seri.

“Ya,” jawab Eve datar.

Dilatar belakangi warna oranye-kuning matahari yang akan tenggelam di puncak Gunung Gokarna, siluet hitam Taufo yang meloncat-loncat gembira, Eve yang berdiri gagah memandang Lowland dan keledai benjol yang sedang menjulurkan lidahnya ke Taufo menandai bahwa mereka telah sampai di kota yang mereka tuju. Lowland.

 

***

 

“Saya ingin mohon diri dari sini, Kek!” ucap Eve tegas kepada Kakek. Pandangan matanya tanpa ekspresi mengarah ke Kakek yang sedang duduk bersila di beranda depan rumah pohon.

“Hhh..” Kakek menjawabnya hanya dengan hembusan nafas pelan dan gelengan kepala kecil sambil memandang anak perempuan yang telah tumbuh dewasa dalam didi-kannya.

“Saya akan mengejar dan menghancurkan pedang itu. Demi Ayah, Ibu, Adikku yang belum sempat lahir… dan Pippi!” lanjut Eve tegas.

“Aku minta maaf… Karena akulah kau menjadi seorang yatim. Untuk itulah aku sekarang mendidikmu menjadi orang yang kuat agar tidak bisa dikendalikan oleh pedang itu. Tetapi Ayahmu tidak akan memaafkan aku kalau kau mela-kukan hal itu Eve… Tidak akan… Kau tahu kenapa? Karena Kau melakukan itu untuk balas dendam… Dan dendam bukanlah dasar yang kuat untuk melakukan sesuatu. Kalau kau masih seperti ini… Kakek yakin… Kaulah yang akan memegang pedang itu nanti, bukan mengendalikan, tapi dikendalikan…” jawab kakek tenang sambil tetap meman-dang Eve.

Eve diam, sedetik kemudian matanya berkaca-kaca. Diapun segera mendongak, tidak ingin dilihat Kakek sebagai orang cengeng dengan menangis. Eve tidak yakin kalau dia menangis maka Kakek akan melepas kepergiannya, jadi satu-satunya cara adalah menunjukkan bahwa hatinya benar-benar sudah siap untuk pergi dari tempat itu dan mengejar pembunuh keluarganya.

Ekspresi Eve berubah, kedua alisnya berdekatan, matanya menyipit, giginya dikatupkan serapat mungkin, membuat rahangnya terlihat lebih kotak, lalu menurunkan pandangan matanya ke Kakek.

“Jadi Kakek tidak yakin dengan kemampuanku?” seru Eve pelan, tetapi tegas. “Ayo, kita buktikan! Uji Aku! SEKARANG!” lanjut Eve dengan nada berapi-api.

Eve melanjutkan ucapannya itu dengan menyerang Kakek yang hanya menggerakkan kepalanya sedikit ke kanan untuk menghindari pedang besar Eve yang sekarang menancap di dinding samping kiri kepala Kakek.

“Aku pernah muda Eve, pernah mengalami gejolak batin yang hampir sama denganmu. Jadi aku tahu apa yang ada di pikiranmu sekarang. Apapun keputusanku, Kau tidak akan mempedulikannya. Aku melarangmupun, Kau akan pergi..” ucap Kakek tenang.

“Karena itu ayo uji aku sekarang, Kek. Aku tidak ingin menjadi murid durhaka yang tidak mematuhi perintah gurunya. Aku yakin Kakek akan mengijinkan aku kalau Kakek sudah mengujiku,” seru Eve seraya mencabut pedang-nya dari dinding di belakang Kakek.

Kakek bergerak, memasukkan tangan ke bagian dalam pakaiannya.

Eve sontak melompat ke belakang, lalu memasang kuda-kuda, siap mengatasi gerakan lanjutan Kakek.

Kakek melemparkan sesuatu ke arah Eve. Eve refleks mengangkat pedangnya ke depan tubuhnya untuk menghin-dari senjata apapun yang dilemparkan Kakek.

Ketika tidak mendengar suara logam beradu sama sekali, Eve menurunkan pedangnya, pelan. Eve berdiri tegap me-mandang Kakek yang masih dengan tatapan tenang melihatnya, lalu menunduk ke bawah mencari sesuatu yang dilemparkan Kakek padanya.

Pandangannya terhenti pada satu titik dimana terdapat sebuah belati kecil menancap di dekat kaki kirinya. Sesaat Eve memandang belati itu, kemudian mengembalikan pandangannya ke arah Kakek yang sekarang sudah mempo-sisikan tangannya diatas kedua kaki.

“Hanya itu benda yang bisa kuberikan untuk bekalmu di jalan. Namanya Zhange, kenalilah dia dalam perjalananmu.

“Hati-hati di jalan dan kalau kau menemukan teman, jangan usir, Aku tahu kau lebih senang sendiri, tapi biarlah dia ikut kemana kau pergi.

“Pergilah ke lereng gunung Gokarna, disana ada seorang pria bernama Trumph Lail. Dari situ Kau tinggal mengikuti relnya.

“Waktu akan akan mengajarimu apa arti kata-kata yang tadi sudah Kakek ucapkan.” ucap Kakek seraya memandang Eve sebentar, sebelum Kakek memejamkan matanya.

Eve memasukkan pedang besarnya ke sarung pedang di punggungnya. Kemudian membungkuk, mengambil Zhange, lalu meletakkannya di pinggang kiri. Eve memandang orang tua di depannya, lalu kembali membungkuk pelan.

“Terima kasih, Kek,” ucap Eve pelan.

Eve memutar tubuhnya, lalu berjalan tegap meninggal-kan rumah pohon dengan segala kenangan di dalamnya.

Sepeninggal Eve, Kakek membuka matanya, meman-dang Eve yang melangkah satu demi satu menuju masa depan yang belum diketahuinya.

“Kau sendiri yang akan menentukan menjadi apa dirimu kelak,” gumam kakek pelan, mengiringi hilangnya sosok Eve di gua.

You must be logged in to post a comment.