Chapter 3 - Kehangatan Hatimu
Malam itu begitu sunyi. Hanya tampak beberapa bayangan benda yang bergerak-gerak dari sebuah api unggun yang menari-nari tertiup angin malam diatas tumpukan kayu bakar.
Gemeretak kayu bakar yang dilalap api mengisi kesunyian hutan tempat Eve dan Taufo berhenti sejenak beristirahat.
Taufo sedang sibuk memutar-mutar daging di atas api unggun kecil yang dibuatnya untuk menghangatkan diri dan memasak. Daging dari kelinci yang ditangkapnya tadi siang itu sekarang sudah berwarna coklat matang, siap untuk disantap.
“Yak, sudah matang!” seru Taufo riang sambil menariknya dari atas api unggun ke piring di depannya. “Makanlah ini, sebagai permintaan maafku karena telah menuduhmu,” lanjut Taufo seraya menyodorkan piring berisi separuh daging kelinci bakar.
”Ini daging kelinci yang kutangkap tadi siang. Pasti enak kok, kata orang desaku masakanku lumayan lho!” Taufo mendekatkan lagi daging bakarnya ke Eve sambil tersenyum.
Eve memandang Taufo tanpa ekspresi.
“Duduk dan makanlah sendiri,” ujar Eve pelan.
Ekspresi Taufo berubah drastis. Kini ekspresinya persis seperti Eve, tanpa ekspresi. Bola mata Taufo bergerak ke atas kemudian berputar ke kiri diiringi dengan perputaran tubuhnya kembali ke tempatnya ogah-ogahan.
Taufo duduk di atas matras yang dibawanya lalu menggigit daging di piring itu dengan kasar.
“Jujuk jan makan-yah sendiyi!” gerutu Taufo pelan sambil memonyongkan bibirnya seraya melirik ke arah Eve yang sudah bersiap-siap tidur.
Pandangan mata Taufo sesaat berubah melihat Eve.
“Apa yang sudah membuatmu jadi sedingin ini?” pikir Taufo dalam hati, lalu melanjutkan makannya sambil sesekali melihat Eve.
Tetapi ada sesuatu yang janggal dilihat Taufo. Eve tidak juga menetapkan hatinya untuk tidur. Dia berkali-kali berpindah posisi. Telentang, miring ke kanan, kiri, lalu telungkup.
Beberapa saat kemudian Eve kembali memiringkan tubuhnya ke kanan. Kedua tangannya dilipat di depan dada lalu diikuti kedua kakinya yang juga ditekuk ke depan perut. Sambil gemetar kedinginan akan udara malam itu, Eve mencoba tidur.
“Hhh..” Taufo menghela nafasnya hingga bersuara. “Bagaimanapun kau berusaha terlihat kuat, kau tetap seorang manusia,” lanjutnya pelan.
Sambil menggelengkan kepala dan menempatkan kornea matanya keatas, dia bangkit, mengambil selimut tebal di dalam tasnya lalu bergerak pelan ke arah Eve.
Pelan, Taufo menyelimuti Eve yang masih gemetar.
Mendadak gerakan Taufo berhenti sempurna dengan posisi menungging sambil masih memegangi selimut. Pedang besar Eve telah menempel di lehernya untuk kesekian kalinya.
“Mau apa kamu?” tanya Eve dengan tatapan tanpa ekspresinya.
“Se-li-mut?” jawab Taufo sambil meringis tanpa ekspresi.
Eve melirik ke selimut yang dibawa Taufo.
WUTT!
Selimut di tangan Taufo disambar pedang Eve lalu diayunkan ke arah Taufo sehingga membuat wajah Taufo tertutup selimutnya sendiri.
“Tidak perlu!” ujar Eve seraya kembali menata tubuhnya ke posisi tidur.
Taufo menegakkan dirinya lalu menarik selimut yang menutupi kepalanya. Di wajahnya terpasang ekspresi yang sangat jengkel.
Tiba-tiba Taufo melemparkan selimut itu ke arah Eve sambil mengucapkan sesuatu dengan nada yang kasar.
“Kassap!”
Selimut yang jatuh di tubuh Eve mendadak seperti hidup. Bergerak sendiri, selimut itu memaksa tubuh Eve menghadap ke atas, telentang
Belum selesai kaget Eve, keempat ujung selimut itu kini mengeras, membentuk sebuah pasak lalu menghujam ke tanah.
“Jangan sok kuat!” seru Taufo seraya berjalan kembali ke tempat matrasnya tergeletak dengan langkah panjang-panjang dan kedua tangan melebar.
Eve mencoba bergerak sedikit, tapi selimut itu menahan setiap gerakan yang dibuatnya. Terasa hangat, Eve tidak melanjutkan rontaan tak berartinya.
Eve melirik Taufo yang masih dengan gerutuannya masuk ke dalam selimutnya lalu tidur membelakangi Eve.
Taufo tidak tahu, saat itu ujung bibir Eve sedikit terangkat. Eve tersenyum kecil. Tanpa disadarinya, hati bekunya sedikit mencair oleh sebuah selimut yang hangat.
Eve, –yang dipaksa merebahkan diri telentang di atas matrasnya– kemudian melihat bintang-bintang di langit yang memang sedang cerah-cerahnya.
Sebentuk bulan sabit melengkungkan senyumnya yang miring dan suara binatang-binatang malam di hutan itu membuat Eve terhipnotis ke alam tak sadar membuat matanya terasa semakin berat untuk dibuka.
***
TAP.. TAP.. TAP..
Suara langkah sosok putih yang kini mulai jelas terlihat sebagai seorang kakek berambut putih panjang dengan surban menutup kepalanya terdengar sangat cepat susul menyusul antara kedua kakinya. Antara lari dan melompat jarak jauh, Kakek yang jenggot panjangnya dikelabang rapi hingga ke perut itu menggendong Eve laksana terbang menjauh sebisa mungkin dari tempatnya menyambar Eve.
Berharap pedang itu tidak mengikuti, Kakek sesekali menoleh ke belakang. Dan ketika jaraknya sudah dirasa cukup jauh dan tidak ada tanda-tanda pedang itu mengikuti, Kakek memperlambat laju larinya, berharap agar Eve yang dipanggulnya tidak terguncang-guncang.
Tiba-tiba arah lari Sang Kakek berubah. Dia membelok ke kanan, ke arah selatan, dan tak berapa lama kemudian perlahan menghentikan langkah di depan sebuah tebing yang tinggi menjulang.
Sang Kakek kembali menoleh ke kanan, kiri dan belakang. Setelah memastikan tidak ada yang lain selain dirinya dan Eve, dia mengetuk sebuah batu besar di depannya dengan ketukan bernada.
Tok.. Tok Tok.. Tok
GREEEKK..
Batu besar di depan Sang Kakek bergeser, memper-lihatkan sebuah lorong gelap yang belum bisa menampakkan seberapa panjang lorong itu.
Sang Kakek bergegas masuk ke dalam, memutar tubuhnya, mengetuk kembali pintu batu tadi, lalu setelah pintu batu itu menutup diraihnya sebuah obor di dinding kanan dekat pintu batu. Digeserkannya obor itu di dinding batu lorong, memunculkan percikan api yang kemudian menyalakan obor di tangan Kakek.
Lorong batu itu lembab, tanahnya sedikit lembek, ketika Kakek melewatinya terbentuklah jejak-jejak sandal jerami yang dipakai Kakek.
Dari cahaya obor terlihat bahwa lorong itu tak seberapa panjang, hanya saja sebagian dari dinding batu itu tidak rata. Ada beberapa buah batu yang mencuat dan menonjol hampir menutupi separuh lebar lorong.
Beberapa langkah Kakek telah mengajak si empunya kaki untuk mencapai ujung satunya.
Sesampai di ujung, sebuah pemandangan yang tidak lazim menanti, gua itu sangat luas. Di bagian atasnya berongga sehingga langit bisa dilihat dari gua itu.
Sebuah danau melekat di dasar gua. Air danau itu berwarna hijau dan bening sekali.
Di tengah-tengah gua terdapat sebuah pohon yang sangat besar. Pohon itu tumbuh di pulau kecil di tengah danau. Dahan-dahannya mencapai atap gua disertai dedaunan yang sangat banyak. Hal itu membuat udara di gua tersebut benar-benar segar dan menyejukkan. Pohon itu memiliki beberapa jendela dan sebuah pintu.
Kakek membawa Eve masuk ke dalam melalui pintu itu. Di dalamnya ada sebuah meja disertai beberapa kursinya, lemari-lemari kayu juga menghias ruangan dalam pohon tersebut. Beberapa foto tampak tergantung di dinding rumah pohon itu. Sebuah penyekat terpasang membuat sebentuk ruangan lagi di salah satu sudut rumah. Tangga melingkar yang menempel di dinding menandakan ada lantai dua di rumah pohon itu.
Kakek membawa Eve naik, masuk ke dalam salah satu diantara 3 kamar yang tersedia di situ. Kamar yang rapi dan bersih. Beberapa perabot di dalam kamar itu berwarna sedikit kehijauan membuat suasana kamar menjadi segar.
Sebuah ranjang terletak di dekat jendela. Kakek meletakkan Eve pelan di atas ranjang. Setelah itu diamatinya anak perempuan kecil yang baru diselamatkannya.
Sesaat ekspresi Kakek berubah, seakan mengingat sesuatu yang menyesakkan hati, wajah tua itu mengerutkan kulit dahinya dan memejamkan matanya.
Kakek duduk di pinggir ranjang lalu memegang dahinya sendiri dengan tangan kanan. Beberapa detik kemudian Kakek mengusap wajahnya sendiri sambil menghela nafas panjang. Dilihatnya kembali wajah kecil di samping kanannya, lalu berdiri dan menghilang di balik pintu.
Beberapa menit kemudian kakek kembali, di tangannya ada sebuah baskom dengan sebuah handuk kecil terjuntai di pinggirnya. Kakek meletakkan baskom itu diatas meja di samping tempat tidur, lalu dia sendiri duduk di tempat yang tadi ditinggalkannya.
Kakek mengambil handuk kecil itu, mencelupkannya ke air dalam baskom, memerasnya lembut, lalu melipat seukuran dahi anak kecil dan kemudian meletakkannya di dahi Eve yang masih belum sadar.
Beberapa kali kakek mengulangi apa yang dilakukannya tersebut selama sekian menit sebelum akhirnya kakek kembali beranjak dari tempatnya duduk lalu berjalan mening-galkan kamar itu.
Sekembalinya, Kakek membawa segelas air putih lalu meletakkannya di meja di samping tempat tidur. Setelah itu dia kembali mengambil handuk di dahi Eve dan kembali melakukan hal yang tadi dilakukannya.
Sementara itu, Eve sudah mulai mendapatkan kesadaran-nya kembali. Jari-jemarinya bergerak pelan, matanya mulai terbuka sedikit.
Remang-remang dilihatnya bayangan kepala orang yang sedang menghadap ke kanannya. Ditutupnya lagi kedua matanya lalu sekejap kemudian dibukanya kembali. Kali ini terlihat lebih jelas ada dua buah tangan yang memegang handuk kecil diarahkan ke kepalanya. Eve belum sepenuhnya sadar hingga handuk kecil yang dingin itu menempel di dahinya. Dan ketika dinginnya air itu menyerbu kulit dahinya, Eve sontak bangun dan menjatuhkan handuk kecil di dahinya serta membuat kakek di depannya kaget.
“Ibu! Ibu!” seru Eve sambil menoleh ke kanan-kiri mencari orang yang diharapkannya ada di depan matanya ketika bangun. Sadar orang yang dicarinya tidak ada, Eve mencari hewan peliharaannya.
“Pippi! Pi!” teriak Eve memanggil-manggil tanpa ada yang menyahut. Teriakan-teriakan itu terus berlanjut antara “Ibu” dan “Pippi”. Kakek membiarkan Eve melakukan hal itu hingga akhirnya Eve berhenti dengan sendirinya setelah tahu yang dipanggil tidak akan muncul.
Sebentuk airmata keluar dari kedua mata Eve yang sekarang tak menunjukkan ekspresi apapun. Kakek terkejut melihat hal itu. Segera diraihnya kepala Eve, disandarkan di dadanya kemudian mengelus kepala Eve perlahan.
“Menangislah, karena tangis adalah kelegaan dan awal sebuah perubahan” ucap Kakek pelan di dekat telinga Eve.
Sedetik kemudian tangan Eve bergerak memberi jarak antara Kakek dengannya, lalu mengusap air matanya dengan tangan kanan dari siku hingga ujung jari. Setelah itu, Eve menatap kakek tanpa ekspresi dan tanpa berkedip sedikitpun.
“Dan dimulailah perubahan itu.” Ucap Kakek sembari tersenyum kecil ke arah Eve.