Mata Eve sayu, ingatan masa kecilnya yang selama ini menghantui malam-malamnya selama sepuluh tahun dan sejak satu tahun terakhir sudah tidak lagi dipikirkannya kini kembali. Ingatan yang pernah membuatnya hampir menga-khiri hidupnya sendiri bila tidak ada yang mencegah. Dan ingatan yang kini berusaha ditutupnya dengan melakukan perjalanan seorang diri.
Eve mengusap air mata yang baru saja berhenti mengalir. Pelan, dia menurunkan tubuh perempuan hamil dari pangkuannya. Tangannya tanpa sadar bergerak ke dahinya. Dipijatnya pelan dengan jari tengah dan ibu jari kepalanya yang tidak pusing. Sekian detik kemudian mengiringi turunnya tangan dari kepala, Eve berdiri dengan pandangan mata tak lepas dari jenazah perempuan hamil di depannya.
Mendadak mata Eve menajam. Kedua alisnya merapat ke tengah.
DHUAAARR!
Sebuah petir tiba-tiba menyambar tempat Eve berdiri. Untunglah sepersekian detik sebelumnya Eve sudah berpindah tempat.
Eve yang penasaran menoleh kekiri dan kekanan serta ke belakang mencari-cari penyerangnya. Tanah yang baru saja tersambar petir tertutup kepulan asap tipis. Seiring pudarnya asap serangan petir, tampak sesosok pria berjalan menguak asap mendekati Eve.
Melewati asap, sosok yang tadinya hanya samar-samar sekarang terlihat dengan jelas. Seorang pemuda kurus bertubuh tinggi, rambutnya yang lurus menggunakan penutup kepala berupa kain panjang diikat di belakang menghentikan langkahnya setelah melewati kepulan asap. Rambutnya sendiri sepanjang bahu, bagian depannya yang jarang-jarang hampir menutupi mata kirinya. Pemuda itu bertelanjang dada, hanya rompi dengan motif-motif hieroglyph yang menempel di tubuh bagian atsnya. Dia menggunakan celana selutut dari kulit. Tanpa sepatu, Pemuda itu hanya menggunakan sandal dengan simpul yang banyak hingga setengah betisnya. Di tangan kanannya tergenggam sebuah tongkat dengan panjang kira-kira satu meter. Tongkat dengan banyak bengkokan, ujung bawahnya lancip hingga ketika di hentakkan di tanah akan menimbulkan bekas yang cukup dalam, ujung atasnya melebar dan membentuk cekungan yang diisi oleh sebuah cahaya putih yang terang sekali.
Gigi pemuda itu bergemeratak, matanya berapi-api memandang Eve dengan ekspresi jijik. Pelan, diarahkannya ujung tongkat yang bercahaya ke arah Eve.
“Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba menyerang?” Eve bertanya pada pemuda itu seraya mengangkat pedang besarnya tanpa ekspresi. “Apa kau seorang pengecut yang hanya berani menyerang orang dari belakang?” lanjut Eve, mata sayunya memandang pemuda itu tanpa berkedip.
Api di mata pemuda itu semakin besar.
“Aku? Pengecut? Kaulah yang pengecut! Perempuan macam apa yang membunuh seorang Ibu yang sedang hamil? Hanya perempuan tak berperasaan yang melakukan hal macam itu!” seru Pemuda itu disambung teriakan keras.
“Bledaga!”
Sebentuk kilat keluar dari cahaya di ujung tongkat Pemuda itu, mengarah ke Eve yang sekarang menghujamkan pedangnya ke tanah lalu membuat gerakan mencongkel tanah. Sebagian tanah di depannya terangkat ke atas membuat sebuah perisai dari tanah berbentuk kotak yang menyerap kilat serangan pemuda bertongkat.
“Kau menuduhku?” bisik Eve yang tiba-tiba sudah berada di belakang Pemuda itu.
Sang Pemuda yang kaget sontak melompat kedepan, lalu memutar tubuhnya ke belakang. Dilihatnya Eve berjalan pelan mendekat sambil berkata tetap tanpa ekspresi.
“Kau menuduhku, lalu menyerangku tanpa memastikan kebenaran terlebih dahulu!” ujar Eve seraya melesat cepat ke arah Pemuda bertongkat yang sekarang berteriak keras seraya menghujamkan tongkatnya ke tanah.
“Kitus Hatan Woshup!”
Tanah di depan Pemuda Bertongkat meledak. Eve menghentikan langkahnya lalu memasang kuda-kuda, bersiap-siap dengan segala kemungkinan yang terjadi.
Dari dalam tanah yang meledak meloncat tiga ekor tikus tanah yang masing-masing bertampang aneh.
Tikus pertama bertubuh pendek tetapi kekar, hal itu terlihat dari lengannya yang gempal. Memakai topi terbalik, rambut depannya menutupi kedua matanya. Kedua tangannya yang menggunakan sarung tinju berwarna hitam bergantian memukul-mukul angin di depannya sangat cepat hingga berbunyi. Lengan kirinya bertatto tengkorak tikus tanah. Celana tinju pendek berwarna merah-hitam bergerak-gerak seiring kedua kakinya yang melompat-lompat berirama kekanan dan kekiri.
Tikus kedua gendut, berpotongan mohawk yang dicat oranye. Warna hitam mengelilingi matanya yang berwarna coklat cerah. Hidungnya ditindik dan dihiasi sebuah anting silver, sementara rantai besar terkalung di lehernya. Sebuah bandul besi yang ujungnya lancip menggantung di kalung yang dikenakannya. Tikus ini bertelanjang dada, sebagai gantinya, dia memakai celana jeans komprang yang robek di bagian lutut. Kedua tangannya mengepal siap bertarung dan berdiri dengan gagahnya.
Tikus ketiga yang tubuhnya sangat kurus tetapi lebih jangkung dari teman-temannya lebih aneh lagi, rambutnya berponi melingkar seperti potongan batok kelapa. Ada sebuah bekas luka yang memanjang dari alis sampai janggut. Matanya berwarna hijau cemerlang dengan pandangan mata yang berwibawa. Dia memakai pakaian karate lengkap dengan sabuk hitam di pinggangnya. Tikus ini membungkuk pelan sebelum kemudian memasang kuda-kuda dan menge-palkan kedua tangannya siap bertarung.
“Dempsey, Mo, Coco, tolong aku! Hajar perempuan tak berperasaan ini!” ujar Pemuda Bertongkat pada ketiga tikus tanahnya berurutan.
Dempsey, tikus tanah yang memakai sarung tinju maju perlahan. Kepalanya diayunkan kekanan-kiri menciptakan sebuah irama untuk pertarungannya. Matanya tidak lepas dari Eve yang tetap tak bergeming dari tempatnya seraya bersiap-siap menerima serangan.
Dempsey melompat ke depan dan menyarangkan tinjunya ke perut Eve. Eve yang sejak tadi sudah siap menerima serangan menghindar dengan mulus ke samping disertai ayunan pedang besarnya ke arah mendaratnya Dempsey.
Dempsey yang sudah bisa menebak serangan Eve melompat sebelum pedang besar Eve menghujam tanah. Dan sebelum Eve menarik pedangnya, Dempsey menjejak tanah seraya menghujamkan tinjunya ke arah kepala Eve.
Tepat sebelum tinju itu melukainya, Eve melompat ke belakang Dempsey lalu..
DHUAKK!
BLAARR!
Dempsey yang tidak bisa mengubah posisi tubuh di udara ditendang oleh Eve sehingga melayang jauh dan terbanting, membuat sebuah lubang yang cukup besar di tanah.
Eve melesat menuju lubang itu, dia mencoba menyerang Dempsey sebelum sempat berdiri dan kembali menyerang-nya. Tiba-tiba sesuatu yang sangat cepat mengarah ke kepala-nya, tangan Eve reflek menutupi kepalanya dengan pedang besarnya.
TRAANG, terdengar suara besi bertabrakan.
Gerakan Eve terhenti. Ketika dia menoleh ke bawah, dilihatnya bandul kalung yang dipakai Mo, tikus tanah kedua, tergeletak disana. Eve yang menyadari bahwa itulah senjata Mo, mengangkat kakinya dan menginjak ujung rantai itu.
SET!
Terlambat, sebelum kaki Eve sempat menyentuh bandul rantai itu, Mo sudah menariknya dan dengan kecepatan luar biasa menyerang Eve lagi.
TRANG! TRANG! TRANG!
Berkali-kali rantai Mo melesat cepat ke arah kepala dan perut Eve bergantian dan berkali-kali pula Eve berhasil menangkis serangan itu dengan mengayunkan pedangnya di saat yang tepat.
WUTT!
Sekali lagi Mo menyerang. Tapi kali ini berbeda, Eve menghindar dengan manis ke samping lalu menangkap rantai yang belum sempat ditarik kembali oleh si empunya. Rantai itu ditarik sehingga Mo melayang ke arah Eve. Dan sebelum Mo berpikir bagaimana mengatasi hal ini..
BHUAKK!!
Pukulan Eve menghantam telak wajahnya sehingga kepala Mo hingga ke leher terbenam di tanah, kakinya bergerak-gerak liar di udara.
Melihat dua temannya ambruk, Coco berjalan pelan mendekati Eve.
Eve segera memasang kuda-kudanya lagi.
Ketika jarak mereka berdua semakin dekat, mendadak Coco membungkuk, memberi salam sebelum memulai pertarungan.
Eve memandang Coco beberapa saat tanpa ekspresi walaupun di hatinya bertanya-tanya.
“Ayolah, Co! Dia jahat! Jadi tak perlu memberi salam seperti itu!” seru Pemuda Bertongkat setelah melongo seben-tar melihat Coco bersopan santun.
Tapi Coco tidak mempedulikan seruan majikannya dan tetap membungkuk, menunggu salamnya dibalas.
Evepun akhirnya ikut membungkuk.
Setelah itu, mereka berdua memasang kuda-kuda.
PLAAK!
Pipi Eve terasa panas, ternyata Coco telah menampar-nya dengan kecepatan gerakan yang membuat hati Eve mencelos.
“Tamparan?” pikir Eve seraya membalas pukulan Coco dengan sabetan pedangnya dari atas.
Coco melompat ke kanan menghindari sabetan pedang Eve, tapi Coco lupa, Eve menyabetkan pedangnya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya kosong, sehingga..
BHUAKK!!
Coco terlempar beberapa meter ke udara lalu terjatuh di tanah. Dan ketika Coco bangun dari jatuhnya, pedang Eve telah dipukulkan ke atas kepalanya.
BUMM!
Tubuh Coco dari kaki sampai leher melesak di tanah. Tinggal kepala Coco yang benjol terlihat di atas permukaan tanah.
Eve menoleh ke tempat Pemuda Bertongkat berdiri. Pemuda itu sedang memegang kepalanya sendiri yang tidak pusing sambil menggeleng-gelengkannya.
Eve berjalan pelan ke arah pemuda itu sambil memanggul pedangnya. Dan ketika jarak mereka tinggal lima meter..
GUSRAKK!
Dempsey, Mo dan Coco keluar dari dalam tanah di depan Eve. Masing-masing memasang kuda-kudanya.
WUTT!
Coco memukul Eve. Eve menancapkan pedangnya ke tanah dan melompat memanfaatkan pedang itu. Coco kebablasan, sedang Eve mendarat di atas pedangnya yang sekarang menimpa kepala Dempsey dan Mo yang terlambat menghindar. Dempsey dan Mo meraih-raih Eve yang ada di atas kepalanya dengan sangat bernafsu, tapi hal itu percuma, karena tikus tanah punya tangan yang pendek.
Coco segera berbalik dan melompat menendang Eve yang sekarang salto ke belakang, lalu secepat kilat maju ke depan sambil menggaet kaki Dempsey dan Mo yang entah kenapa selalu terlambat bereaksi.
GUBRAK!
Kedua tikus itu roboh, Coco yang sekarang sedang melayang membelalakkan matanya melihat kebawah.
Kaki Eve sedang menendang ke arah Coco dari posisinya yang kini berada tepat dibawah Coco.
BUGG!!
Coco tertendang telak dan meluncur ke arah Pemuda Bertongkat. Pemuda itu menangkap Coco hingga terjatuh ke belakang. Belum lagi Pemuda itu bersiap, Dempsey dan Mo yang dilemparkan Eve meluncur ke arahnya.
GEDABRUK!
Keempat makhluk itu bertindihan. Pemuda itu diposisi paling bawah tertindih ketiga tikus tanahnya yang mengerang pelan sambil berusaha berdiri.
Beberapa saat kemudian, tiga tikus tanah itu sudah bisa berdiri. Dempsey merengut sambil berkacak pinggang, Mo mengelus-elus kepalanya yang agak benjol setelah membentur tanah, sedangkan Coco membungkuk hormat lagi ke arah Eve sehingga benjolan di kepalanya lebih jelas terlihat.
Di depan mereka, Eve berdiri dengan gagahnya, tangan kanan memegang gagang pedang yang diberdirikannya, sementara tangan kiri tergantung bebas mengepal. Matanya memandang keempat makhluk di depannya tidak berkedip dan tetap tanpa ekspresi.
“Ini pertarungan kita. Jangan libatkan yang lain, Pengecut!” seru Eve.
“Kau bilang jangan libatkan yang lain padahal kau baru saja membunuh orang tak berdosa! Dan aku seorang Rihis sekaligus Pemanggil, apa yang kau harapkan dari aku? Bertempur langsung?” sahut Pemuda Bertongkat setelah berhasil berdiri. Matanya menyipit, memandang Eve dengan sangat jengkel.
Betapa kagetnya Pemuda Bertongkat sepersekian detik setelah matanya berkedip. Pedang Eve sudah menempel di lehernya memberikan sensasi dingin luar biasa ke seluruh bagian tubuhnya.
“Kalau memang aku yang membunuh mereka, sekarang juga aku bisa membunuhmu…” bisik Eve di telinga Pemuda Bertongkat yang sekarang hanya bisa diam terpaku sambil mencoba mengendalikan tubuhnya yang bergetar.
Dempsey, Mo, dan Coco yang tadi berada di depan kini menoleh bergantian ke arah Eve tadi berdiri dan sekarang bergantian dengan rahang bawah terbuka lebar dan mata melotot, terpana melihat kecepatan Eve.
“Aku akan menurunkan pedangku setelah ini yang akan kau ikuti dengan mengembalikan ketiga tikus tanahmu ke tempat mereka. Kalau tidak, aku terpaksa membunuhmu sesuai prasangkamu. Bisa dipahami?”
“Oke…oke…” bisik Pemuda Bertongkat segera.
Sesaat setelah itu, mereka berdua melakukan hal yang sudah mereka sepakati. Eve menurunkan pedang yang menempel di leher Taufo lalu memasukkannya ke sarung pedang yang di cangklong di punggungnya. Sementara itu Pemuda Bertongkat melafalkan mantra mengembalikan para tikus tanah ke dimensinya lalu mengetukkan ujung tongkatnya ke tanah.
“Ripasid!”
Diikuti suara “PLOP!” pelan, ketiga tikus tanah menghilang seiring anggukan hormat Coco ke arah Eve.
Pemuda Bertongkat berjalan pelan di belakang Eve yang sekarang sedang menuju ke sebuah rumah.
“Hei! Namaku Taufo Ra’ad. Boleh kutahu siapa namamu?” seru Pemuda Bertongkat yang diacuhkan oleh Eve.
“Aku belum bisa minta maaf kalau belum tahu namamu!” lanjut Taufo seraya berlari dan berhenti di depan Eve sambil merentangkan kedua tangannya ke samping menghalangi Eve untuk melewatinya.
“Belum kapok rupanya,” ujar Eve pelan seraya mengangkat tangan kanannya meraih pedang di punggungnya lalu menyabetkannya ke arah Taufo seraya berkata “Minggir!” tanpa ekspresi.
WUTT!
Merasa Taufo tidak akan menghindar, Eve menghen-tikan pedangnya tepat satu senti di atas dahi Taufo.
“Kenapa kau tidak menghindar?” tanya Eve datar.
“Kalau kau memang bukan pembunuh mereka,” sahut Taufo sambil menjentikkan kepala ke mayat-mayat yang bergelimpangan di salah satu sudut desa, “Aku yakin kau tidak akan membunuhku hanya karena hal se-sepele ini,” lanjut Taufo sambil tersenyum.
“Bukan berarti aku tak bisa memukulmu.”
Mata Taufo membelalak kaget, dan..
BHUAGG!, kepalan tangan kiri Eve mendarat tepat di hidung Taufo yang membuatnya terlempar lima meter ke belakang dan menabrak dinding rumah yang dituju Eve.
“Cewek sialan yang aneh.” umpat Taufo pelan sambil mengelus kepalanya yang terantuk dinding.
Eve berjalan masuk ke rumah yang ditujunya. Menoleh ke kanan-kiri, mencari sesuatu. Rumah itu tampak rapi, beberapa perabotan dari kayu menghiasi ruang tamunya, dan sebuah foto keluarga tergantung di sebuah dinding kosong.
Pandangannya terhenti di foto itu. Dia melihat Ibu yang tadi di dekapnya dalam foto itu. Ada dua orang anak kecil disana, satu laki-laki dan satu perempuan. Seorang laki-laki berkumis lebat berdiri di samping mereka bertiga.
Eve kemudian mengalihkan pandangan mencari benda yang diharapkannya ada di rumah ini. Dia berjalan ke salah satu ruangan dan menemukan cangkul yang dicarinya.
Sesampai di luar rumah, Eve melepas sarung pedangnya lalu menyandarkannya di dinding depan rumah yang tadi dia masuki. Pelan tapi pasti, Eve melangkah ke tengah desa. Dicangkulnya tanah keras di hadapannya.
Taufo berdiri dari tempatnya terduduk bersandar, menepuk-nepuk pantatnya yang tidak terlalu kotor lalu mengangkat tongkatnya. Tongkatnya diarahkan ke Eve. Diayunkannya tongkat itu keatas dan saat itu juga Eve terangkat ke udara pelan.
Eve menoleh tanpa ekspresi ke arah Taufo seolah bertanya jengkel “Apalagi yang kau lakukan?”
“Turunkan aku,” ujar Eve tanpa ekspresi memandang Taufo.
“Nggak! Diam saja dulu sebentar disitu,” sahut Taufo ketus tanpa memandang ke arah Eve.
Perlahan tongkat yang tadi mengarah ke Eve diturunkan Taufo. Kini sambil memejamkan mata, Taufo mengangkat tongkatnya dengan kedua tangan di depannya. Mendadak semua tubuh tak bernyawa di desa itu melayang. Tak setinggi Eve, tapi melayang dengan ringannya di udara. Eve yang hampir marah sekarang menutup mulutnya.
Taufo membuka matanya. Kembali tongkat panjang itu diturunkan pelan. Sekejap kemudian mulutnya berkomat-kamit, alisnya mengkerut dan matanya tertutup. Dan ketika matanya terbuka, dia memandang tanah di depannya tajam.
“BLARR”, suara ledakan di tanah mengiringi terbentuk-nya sebuah lubang di tanah. Lubang yang cukup besar untuk memasukkan jenazah-jenazah yang kini melayang pelan, turun dengan anggun saat Taufo menurunkan tongkatnya.
Setelah semua jenazah itu masuk ke dalam lubang, Taufo memutar tongkatnya lalu menghentakkannya ke tanah. Gundukan tanah yang tadi menggunung di sisi-sisi lubang kini terangkat dan jatuh perlahan menutup lubang jenazah di tengah desa itu.
“Huff,” hela nafas Taufo. “Semoga kalian semua tenang di alam sana,” lanjut Taufo sambil bersimpuh di depan gundukan besar di depannya.
Taufo beranjak dari tempatnya bersimpuh. Memandang sedih desa itu dari ujung hingga ke ujung.
“Maaf, aku harus pergi. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Aku janji suatu saat nanti akan mengunjungi kalian lagi disini,” ujar Taufo pelan. Dibalikkannya badan dan mulai melangkah ke arah hutan.
Langkah Taufo sudah melewati gapura desa ketika mendadak ia teringat sesuatu. Kepalanya menoleh sangat cepat diikuti putaran tubuhnya. Dia berlari ke tempatnya menguburkan orang-orang desa tadi lalu mencari-cari sesuatu. Ketika yang dicari tidak ada di tempatnya tadi ditinggalkannya, Taufo mulai kebingungan. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, dicarinya lagi perempuan menjengkelkan yang tadi sudah memukulnya.
“Namaku Eve Hud, terima kasih dan selamat jalan.”
Sebuah suara tiba-tiba terdengar di belakangnya. Sontak Taufo terlonjak kaget.
“KAMU ITU! HHRGH!” semprot Taufo setelah menguasai kekagetannya sambil mengepalkan tangan ingin memukul setelah berbalik dan melihat Eve berjalan menjauhinya ke arah hutan.
“TAP TAP TAP” Taufo mengejar Eve, dan setelah sampai di sampingnya, “Nama yang bagus! ‘Eve’ dari Perempuan dan ‘Hud’ dari Utusan, em.. bukan, Nabi lebih tepatnya. Benar?” ujar Taufo cepat. “Kalau aku… ‘Taufo’, artinya Tegar. Sedangkan ‘Ra’ad’ artinya Petir. Keren kan namaku?” lanjut Taufo seraya tersenyum manis ke arah Eve yang dengan ekspresi tak pernah berubah tetap melangkahkan kakinya kedepan tidak peduli.
“Aku dari Benua Calfar, Desa Sava. Kamu dari mana? Sepertinya Benua Hogatha, ya? Logatmu kental sekali sih, hi..hi..
“Aku jadi ingat sama temanku, dia juga dari Hogatha. Logatnya bener-bener kental. Orangnya cerewet, tapi suka bercanda, baik banget, yah pokoknya banyak kebaikannya deh. Dia it…”
“Gimana kalau kau cari saja temanmu itu, lalu ceritakan sesuatu padanya seperti kau bercerita padaku saat ini. Aku nggak suka keramaian, dan kecerewetanmu membuat suasana disekitarku ramai,” cerita Taufo terputus ketika mendadak Eve memotong bicaranya, masih dengan tanpa ekspresinya dan tanpa berhenti berjalan.
Langkah Taufo terhenti. Setelah mendesah pelan dengan kepalanya yang terkulai layu, dia kembali tersenyum lalu kembali memasang wajah ceria dan melangkah cepat menyu-sul Eve.
“Aku jadi ingin tahu, kenapa kamu sendirian? Tujuanmu kemana? Ada apa di tempat tujuanmu? Kalau sudah sampai, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Taufo tanpa jeda.
Eve hanya diam, pandangannya tetap lurus ke depan.
“Aku akan ikut denganmu, apapun yang akan kau katakan, apapun yang akan kau lakukan padaku. Dan jangan tanya padaku kenapa kulakukan ini, aku tidak tahu jawabannya. Aku hanya merasa kalau aku ikut denganmu, maka tujuanku akan bisa kucapai. Maaf aku memaksakan keinginanku, tapi.. aku harus melakukannya,” ujar Taufo kemudian.
Eve menghentikan langkahnya. Pelan, ditolehnya Taufo dan dipandangnya dengan pandangan yang sama seperti ketika mereka pertama kali bertemu. Taufo yang bingung jadi salah tingkah. Kepalanya yang tidak gatal digaruknya sambil memandang ke bawah. Dan ketika kepalanya sudah dirasa hampir lecet karena terlalu lama digaruk tanpa sebab, dia mengangkat wajahnya ke depan. Betapa kagetnya Taufo ketika melihat Eve sudah berada jauh di depannya.
“EVEEE! SIALAN KAMUUU!” teriaknya sambil berlari mengejar Eve.