> News of the day <

Chapter 4 - Lowland

Siang itu begitu panas, untunglah dedaunan hutan melindungi kedua orang yang sedang berjalan dibawah mereka dari sengatan cahaya Sang Mentari.
Kedua orang itu begitu berbeda. Si perempuan, Eve, berjalan dengan gagahnya di depan tanpa sekalipun melirik ke arah lain. Pandangan matanya tertancap lurus ke depan tak tergoyahkan apapun.
Sementara si laki-laki, Taufo, berjalan dengan menyeret tongkat, kaki [...]

February 2009
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

8 Maret - Don’t Forget to Come!

wandah-nina wedding

wandah-nina wedding

Hi teman-teman deskomers, numpang iklan dulu.

Setelah sekian lama memendam rasa, alhamdulillah akhirnya terbukalah jalan menuju ke pernikahan. Yang inshaAllah akan diselenggarakan akad nikah dan resepsi pada :

hari Minggu, 8 Maret 2009

jam 8 - 11 pagi

tempat Masjid Al Ikhlas Raya Langsep Malang

Saya dan Nina benar-benar mengharapkan kedatangan rekan-rekan deskomers sebagai saksi atas pernikahan kami sekaligus meminta doa teman-teman semoga kehidupan setelah pernikahan ini jauh lebih baik, dan semoga segera diberikan keturunan yang soleh/a.

Kalau ditanya “gimana ceritanya??”, akan kujawab disini:

- ceritanya panjaaaaang…. semua berawal dari masa kuliah. Sepertinya aku sudah menaruh rasa ke Nina pas kuliah, tapi baru diungkapkan ketika di Dubai sekitar 2 tahun yang lalu.

- Baru direspon Nina setahun yang lalu dan disetujui keluarganya 8 bulan yang lalu :P

Jangan lupa datang lho, kalo perlu yang kerja di luar kota ambil cuti 3 hari (note: hari senin besoknya / 9 maret adalah hari libur nasional, jadi enak buat cuti panjang).

Undangan inshaAllah sudah sampai di rumah masing-masing, kalaupun belum sampai, mohon maaf karena keterbatasan kami. Silahkan datang semuanya saja biar ramai, anggap saja media situs ini sebagai undangan kepada seluruh teman-teman deskomers.

OK deh, kami tunggu kehadiran teman2!

Chapter 3 - Kehangatan Hatimu

Malam itu begitu sunyi. Hanya tampak beberapa bayangan benda yang bergerak-gerak dari sebuah api unggun yang menari-nari tertiup angin malam diatas tumpukan kayu bakar.
Gemeretak kayu bakar yang dilalap api mengisi kesunyian hutan tempat Eve dan Taufo berhenti sejenak beristirahat.
Taufo sedang sibuk memutar-mutar daging di atas api unggun kecil yang dibuatnya untuk menghangatkan diri dan memasak. Daging dari kelinci yang ditangkapnya tadi siang itu sekarang sudah berwarna coklat matang, siap untuk disantap.
“Yak, sudah matang!” seru Taufo riang sambil menariknya dari atas api unggun ke piring di depannya. “Makanlah ini, sebagai permintaan maafku karena telah menuduhmu,” lanjut Taufo seraya menyodorkan piring berisi separuh daging kelinci bakar.
”Ini daging kelinci yang kutangkap tadi siang. Pasti enak kok, kata orang desaku masakanku lumayan lho!” Taufo mendekatkan lagi daging bakarnya ke Eve sambil tersenyum.
Eve memandang Taufo tanpa ekspresi.
“Duduk dan makanlah sendiri,” ujar Eve pelan.
Ekspresi Taufo berubah drastis. Kini ekspresinya persis seperti Eve, tanpa ekspresi. Bola mata Taufo bergerak ke atas kemudian berputar ke kiri diiringi dengan perputaran tubuhnya kembali ke tempatnya ogah-ogahan.
Taufo duduk di atas matras yang dibawanya lalu menggigit daging di piring itu dengan kasar.
“Jujuk jan makan-yah sendiyi!” gerutu Taufo pelan sambil memonyongkan bibirnya seraya melirik ke arah Eve yang sudah bersiap-siap tidur.
Pandangan mata Taufo sesaat berubah melihat Eve.
“Apa yang sudah membuatmu jadi sedingin ini?” pikir Taufo dalam hati, lalu melanjutkan makannya sambil sesekali melihat Eve.
Tetapi ada sesuatu yang janggal dilihat Taufo. Eve tidak juga menetapkan hatinya untuk tidur. Dia berkali-kali berpindah posisi. Telentang, miring ke kanan, kiri, lalu telungkup.
Beberapa saat kemudian Eve kembali memiringkan tubuhnya ke kanan. Kedua tangannya dilipat di depan dada lalu diikuti kedua kakinya yang juga ditekuk ke depan perut. Sambil gemetar kedinginan akan udara malam itu, Eve mencoba tidur.
“Hhh..” Taufo menghela nafasnya hingga bersuara. “Bagaimanapun kau berusaha terlihat kuat, kau tetap seorang manusia,” lanjutnya pelan.
Sambil menggelengkan kepala dan menempatkan kornea matanya keatas, dia bangkit, mengambil selimut tebal di dalam tasnya lalu bergerak pelan ke arah Eve.
Pelan, Taufo menyelimuti Eve yang masih gemetar.
Mendadak gerakan Taufo berhenti sempurna dengan posisi menungging sambil masih memegangi selimut. Pedang besar Eve telah menempel di lehernya untuk kesekian kalinya.
“Mau apa kamu?” tanya Eve dengan tatapan tanpa ekspresinya.
“Se-li-mut?” jawab Taufo sambil meringis tanpa ekspresi.
Eve melirik ke selimut yang dibawa Taufo.
WUTT!
Selimut di tangan Taufo disambar pedang Eve lalu diayunkan ke arah Taufo sehingga membuat wajah Taufo tertutup selimutnya sendiri.
“Tidak perlu!” ujar Eve seraya kembali menata tubuhnya ke posisi tidur.
Taufo menegakkan dirinya lalu menarik selimut yang menutupi kepalanya. Di wajahnya terpasang ekspresi yang sangat jengkel.
Tiba-tiba Taufo melemparkan selimut itu ke arah Eve sambil mengucapkan sesuatu dengan nada yang kasar.
“Kassap!”
Selimut yang jatuh di tubuh Eve mendadak seperti hidup. Bergerak sendiri, selimut itu memaksa tubuh Eve menghadap ke atas, telentang
Belum selesai kaget Eve, keempat ujung selimut itu kini mengeras, membentuk sebuah pasak lalu menghujam ke tanah.
“Jangan sok kuat!” seru Taufo seraya berjalan kembali ke tempat matrasnya tergeletak dengan langkah panjang-panjang dan kedua tangan melebar.
Eve mencoba bergerak sedikit, tapi selimut itu menahan setiap gerakan yang dibuatnya. Terasa hangat, Eve tidak melanjutkan rontaan tak berartinya.
Eve melirik Taufo yang masih dengan gerutuannya masuk ke dalam selimutnya lalu tidur membelakangi Eve.
Taufo tidak tahu, saat itu ujung bibir Eve sedikit terangkat. Eve tersenyum kecil. Tanpa disadarinya, hati bekunya sedikit mencair oleh sebuah selimut yang hangat.
Eve, –yang dipaksa merebahkan diri telentang di atas matrasnya– kemudian melihat bintang-bintang di langit yang memang sedang cerah-cerahnya.
Sebentuk bulan sabit melengkungkan senyumnya yang miring dan suara binatang-binatang malam di hutan itu membuat Eve terhipnotis ke alam tak sadar membuat matanya terasa semakin berat untuk dibuka.

***

TAP.. TAP.. TAP..
Suara langkah sosok putih yang kini mulai jelas terlihat sebagai seorang kakek berambut putih panjang dengan surban menutup kepalanya terdengar sangat cepat susul menyusul antara kedua kakinya. Antara lari dan melompat jarak jauh, Kakek yang jenggot panjangnya dikelabang rapi hingga ke perut itu menggendong Eve laksana terbang menjauh sebisa mungkin dari tempatnya menyambar Eve.
Berharap pedang itu tidak mengikuti, Kakek sesekali menoleh ke belakang. Dan ketika jaraknya sudah dirasa cukup jauh dan tidak ada tanda-tanda pedang itu mengikuti, Kakek memperlambat laju larinya, berharap agar Eve yang dipanggulnya tidak terguncang-guncang.
Tiba-tiba arah lari Sang Kakek berubah. Dia membelok ke kanan, ke arah selatan, dan tak berapa lama kemudian perlahan menghentikan langkah di depan sebuah tebing yang tinggi menjulang.
Sang Kakek kembali menoleh ke kanan, kiri dan belakang. Setelah memastikan tidak ada yang lain selain dirinya dan Eve, dia mengetuk sebuah batu besar di depannya dengan ketukan bernada.
Tok.. Tok Tok.. Tok
GREEEKK..
Batu besar di depan Sang Kakek bergeser, memper-lihatkan sebuah lorong gelap yang belum bisa menampakkan seberapa panjang lorong itu.
Sang Kakek bergegas masuk ke dalam, memutar tubuhnya, mengetuk kembali pintu batu tadi, lalu setelah pintu batu itu menutup diraihnya sebuah obor di dinding kanan dekat pintu batu. Digeserkannya obor itu di dinding batu lorong, memunculkan percikan api yang kemudian menyalakan obor di tangan Kakek.
Lorong batu itu lembab, tanahnya sedikit lembek, ketika Kakek melewatinya terbentuklah jejak-jejak sandal jerami yang dipakai Kakek.
Dari cahaya obor terlihat bahwa lorong itu tak seberapa panjang, hanya saja sebagian dari dinding batu itu tidak rata. Ada beberapa buah batu yang mencuat dan menonjol hampir menutupi separuh lebar lorong.
Beberapa langkah Kakek telah mengajak si empunya kaki untuk mencapai ujung satunya.
Sesampai di ujung, sebuah pemandangan yang tidak lazim menanti, gua itu sangat luas. Di bagian atasnya berongga sehingga langit bisa dilihat dari gua itu.
Sebuah danau melekat di dasar gua. Air danau itu berwarna hijau dan bening sekali.
Di tengah-tengah gua terdapat sebuah pohon yang sangat besar. Pohon itu tumbuh di pulau kecil di tengah danau. Dahan-dahannya mencapai atap gua disertai dedaunan yang sangat banyak. Hal itu membuat udara di gua tersebut benar-benar segar dan menyejukkan. Pohon itu memiliki beberapa jendela dan sebuah pintu.
Kakek membawa Eve masuk ke dalam melalui pintu itu. Di dalamnya ada sebuah meja disertai beberapa kursinya, lemari-lemari kayu juga menghias ruangan dalam pohon tersebut. Beberapa foto tampak tergantung di dinding rumah pohon itu. Sebuah penyekat terpasang membuat sebentuk ruangan lagi di salah satu sudut rumah. Tangga melingkar yang menempel di dinding menandakan ada lantai dua di rumah pohon itu.
Kakek membawa Eve naik, masuk ke dalam salah satu diantara 3 kamar yang tersedia di situ. Kamar yang rapi dan bersih. Beberapa perabot di dalam kamar itu berwarna sedikit kehijauan membuat suasana kamar menjadi segar.
Sebuah ranjang terletak di dekat jendela. Kakek meletakkan Eve pelan di atas ranjang. Setelah itu diamatinya anak perempuan kecil yang baru diselamatkannya.
Sesaat ekspresi Kakek berubah, seakan mengingat sesuatu yang menyesakkan hati, wajah tua itu mengerutkan kulit dahinya dan memejamkan matanya.
Kakek duduk di pinggir ranjang lalu memegang dahinya sendiri dengan tangan kanan. Beberapa detik kemudian Kakek mengusap wajahnya sendiri sambil menghela nafas panjang. Dilihatnya kembali wajah kecil di samping kanannya, lalu berdiri dan menghilang di balik pintu.
Beberapa menit kemudian kakek kembali, di tangannya ada sebuah baskom dengan sebuah handuk kecil terjuntai di pinggirnya. Kakek meletakkan baskom itu diatas meja di samping tempat tidur, lalu dia sendiri duduk di tempat yang tadi ditinggalkannya.
Kakek mengambil handuk kecil itu, mencelupkannya ke air dalam baskom, memerasnya lembut, lalu melipat seukuran dahi anak kecil dan kemudian meletakkannya di dahi Eve yang masih belum sadar.
Beberapa kali kakek mengulangi apa yang dilakukannya tersebut selama sekian menit sebelum akhirnya kakek kembali beranjak dari tempatnya duduk lalu berjalan mening-galkan kamar itu.
Sekembalinya, Kakek membawa segelas air putih lalu meletakkannya di meja di samping tempat tidur. Setelah itu dia kembali mengambil handuk di dahi Eve dan kembali melakukan hal yang tadi dilakukannya.
Sementara itu, Eve sudah mulai mendapatkan kesadaran-nya kembali. Jari-jemarinya bergerak pelan, matanya mulai terbuka sedikit.
Remang-remang dilihatnya bayangan kepala orang yang sedang menghadap ke kanannya. Ditutupnya lagi kedua matanya lalu sekejap kemudian dibukanya kembali. Kali ini terlihat lebih jelas ada dua buah tangan yang memegang handuk kecil diarahkan ke kepalanya. Eve belum sepenuhnya sadar hingga handuk kecil yang dingin itu menempel di dahinya. Dan ketika dinginnya air itu menyerbu kulit dahinya, Eve sontak bangun dan menjatuhkan handuk kecil di dahinya serta membuat kakek di depannya kaget.
“Ibu! Ibu!” seru Eve sambil menoleh ke kanan-kiri mencari orang yang diharapkannya ada di depan matanya ketika bangun. Sadar orang yang dicarinya tidak ada, Eve mencari hewan peliharaannya.
“Pippi! Pi!” teriak Eve memanggil-manggil tanpa ada yang menyahut. Teriakan-teriakan itu terus berlanjut antara “Ibu” dan “Pippi”. Kakek membiarkan Eve melakukan hal itu hingga akhirnya Eve berhenti dengan sendirinya setelah tahu yang dipanggil tidak akan muncul.
Sebentuk airmata keluar dari kedua mata Eve yang sekarang tak menunjukkan ekspresi apapun. Kakek terkejut melihat hal itu. Segera diraihnya kepala Eve, disandarkan di dadanya kemudian mengelus kepala Eve perlahan.
“Menangislah, karena tangis adalah kelegaan dan awal sebuah perubahan” ucap Kakek pelan di dekat telinga Eve.
Sedetik kemudian tangan Eve bergerak memberi jarak antara Kakek dengannya, lalu mengusap air matanya dengan tangan kanan dari siku hingga ujung jari. Setelah itu, Eve menatap kakek tanpa ekspresi dan tanpa berkedip sedikitpun.
“Dan dimulailah perubahan itu.” Ucap Kakek sembari tersenyum kecil ke arah Eve.

Chapter 2 - Coba Kalau Berani!

Mata Eve sayu, ingatan masa kecilnya yang selama ini menghantui malam-malamnya selama sepuluh tahun dan sejak satu tahun terakhir sudah tidak lagi dipikirkannya kini kembali. Ingatan yang pernah membuatnya hampir menga-khiri hidupnya sendiri bila tidak ada yang mencegah. Dan ingatan yang kini berusaha ditutupnya dengan melakukan perjalanan seorang diri.
Eve mengusap air mata yang baru saja berhenti mengalir. Pelan, dia menurunkan tubuh perempuan hamil dari pangkuannya. Tangannya tanpa sadar bergerak ke dahinya. Dipijatnya pelan dengan jari tengah dan ibu jari kepalanya yang tidak pusing. Sekian detik kemudian mengiringi turunnya tangan dari kepala, Eve berdiri dengan pandangan mata tak lepas dari jenazah perempuan hamil di depannya.
Mendadak mata Eve menajam. Kedua alisnya merapat ke tengah.
DHUAAARR!
Sebuah petir tiba-tiba menyambar tempat Eve berdiri. Untunglah sepersekian detik sebelumnya Eve sudah berpindah tempat.
Eve yang penasaran menoleh kekiri dan kekanan serta ke belakang mencari-cari penyerangnya. Tanah yang baru saja tersambar petir tertutup kepulan asap tipis. Seiring pudarnya asap serangan petir, tampak sesosok pria berjalan menguak asap mendekati Eve.
Melewati asap, sosok yang tadinya hanya samar-samar sekarang terlihat dengan jelas. Seorang pemuda kurus bertubuh tinggi, rambutnya yang lurus menggunakan penutup kepala berupa kain panjang diikat di belakang menghentikan langkahnya setelah melewati kepulan asap. Rambutnya sendiri sepanjang bahu, bagian depannya yang jarang-jarang hampir menutupi mata kirinya. Pemuda itu bertelanjang dada, hanya rompi dengan motif-motif hieroglyph yang menempel di tubuh bagian atsnya. Dia menggunakan celana selutut dari kulit. Tanpa sepatu, Pemuda itu hanya menggunakan sandal dengan simpul yang banyak hingga setengah betisnya. Di tangan kanannya tergenggam sebuah tongkat dengan panjang kira-kira satu meter. Tongkat dengan banyak bengkokan, ujung bawahnya lancip hingga ketika di hentakkan di tanah akan menimbulkan bekas yang cukup dalam, ujung atasnya melebar dan membentuk cekungan yang diisi oleh sebuah cahaya putih yang terang sekali.
Gigi pemuda itu bergemeratak, matanya berapi-api memandang Eve dengan ekspresi jijik. Pelan, diarahkannya ujung tongkat yang bercahaya ke arah Eve.
“Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba menyerang?” Eve bertanya pada pemuda itu seraya mengangkat pedang besarnya tanpa ekspresi. “Apa kau seorang pengecut yang hanya berani menyerang orang dari belakang?” lanjut Eve, mata sayunya memandang pemuda itu tanpa berkedip.
Api di mata pemuda itu semakin besar.
“Aku? Pengecut? Kaulah yang pengecut! Perempuan macam apa yang membunuh seorang Ibu yang sedang hamil? Hanya perempuan tak berperasaan yang melakukan hal macam itu!” seru Pemuda itu disambung teriakan keras.
“Bledaga!”
Sebentuk kilat keluar dari cahaya di ujung tongkat Pemuda itu, mengarah ke Eve yang sekarang menghujamkan pedangnya ke tanah lalu membuat gerakan mencongkel tanah. Sebagian tanah di depannya terangkat ke atas membuat sebuah perisai dari tanah berbentuk kotak yang menyerap kilat serangan pemuda bertongkat.
“Kau menuduhku?” bisik Eve yang tiba-tiba sudah berada di belakang Pemuda itu.
Sang Pemuda yang kaget sontak melompat kedepan, lalu memutar tubuhnya ke belakang. Dilihatnya Eve berjalan pelan mendekat sambil berkata tetap tanpa ekspresi.
“Kau menuduhku, lalu menyerangku tanpa memastikan kebenaran terlebih dahulu!” ujar Eve seraya melesat cepat ke arah Pemuda bertongkat yang sekarang berteriak keras seraya menghujamkan tongkatnya ke tanah.
“Kitus Hatan Woshup!”
Tanah di depan Pemuda Bertongkat meledak. Eve menghentikan langkahnya lalu memasang kuda-kuda, bersiap-siap dengan segala kemungkinan yang terjadi.
Dari dalam tanah yang meledak meloncat tiga ekor tikus tanah yang masing-masing bertampang aneh.
Tikus pertama bertubuh pendek tetapi kekar, hal itu terlihat dari lengannya yang gempal. Memakai topi terbalik, rambut depannya menutupi kedua matanya. Kedua tangannya yang menggunakan sarung tinju berwarna hitam bergantian memukul-mukul angin di depannya sangat cepat hingga berbunyi. Lengan kirinya bertatto tengkorak tikus tanah. Celana tinju pendek berwarna merah-hitam bergerak-gerak seiring kedua kakinya yang melompat-lompat berirama kekanan dan kekiri.
Tikus kedua gendut, berpotongan mohawk yang dicat oranye. Warna hitam mengelilingi matanya yang berwarna coklat cerah. Hidungnya ditindik dan dihiasi sebuah anting silver, sementara rantai besar terkalung di lehernya. Sebuah bandul besi yang ujungnya lancip menggantung di kalung yang dikenakannya. Tikus ini bertelanjang dada, sebagai gantinya, dia memakai celana jeans komprang yang robek di bagian lutut. Kedua tangannya mengepal siap bertarung dan berdiri dengan gagahnya.
Tikus ketiga yang tubuhnya sangat kurus tetapi lebih jangkung dari teman-temannya lebih aneh lagi, rambutnya berponi melingkar seperti potongan batok kelapa. Ada sebuah bekas luka yang memanjang dari alis sampai janggut. Matanya berwarna hijau cemerlang dengan pandangan mata yang berwibawa. Dia memakai pakaian karate lengkap dengan sabuk hitam di pinggangnya. Tikus ini membungkuk pelan sebelum kemudian memasang kuda-kuda dan menge-palkan kedua tangannya siap bertarung.
“Dempsey, Mo, Coco, tolong aku! Hajar perempuan tak berperasaan ini!” ujar Pemuda Bertongkat pada ketiga tikus tanahnya berurutan.
Dempsey, tikus tanah yang memakai sarung tinju maju perlahan. Kepalanya diayunkan kekanan-kiri menciptakan sebuah irama untuk pertarungannya. Matanya tidak lepas dari Eve yang tetap tak bergeming dari tempatnya seraya bersiap-siap menerima serangan.
Dempsey melompat ke depan dan menyarangkan tinjunya ke perut Eve. Eve yang sejak tadi sudah siap menerima serangan menghindar dengan mulus ke samping disertai ayunan pedang besarnya ke arah mendaratnya Dempsey.
Dempsey yang sudah bisa menebak serangan Eve melompat sebelum pedang besar Eve menghujam tanah. Dan sebelum Eve menarik pedangnya, Dempsey menjejak tanah seraya menghujamkan tinjunya ke arah kepala Eve.
Tepat sebelum tinju itu melukainya, Eve melompat ke belakang Dempsey lalu..
DHUAKK!
BLAARR!
Dempsey yang tidak bisa mengubah posisi tubuh di udara ditendang oleh Eve sehingga melayang jauh dan terbanting, membuat sebuah lubang yang cukup besar di tanah.
Eve melesat menuju lubang itu, dia mencoba menyerang Dempsey sebelum sempat berdiri dan kembali menyerang-nya. Tiba-tiba sesuatu yang sangat cepat mengarah ke kepala-nya, tangan Eve reflek menutupi kepalanya dengan pedang besarnya.
TRAANG, terdengar suara besi bertabrakan.
Gerakan Eve terhenti. Ketika dia menoleh ke bawah, dilihatnya bandul kalung yang dipakai Mo, tikus tanah kedua, tergeletak disana. Eve yang menyadari bahwa itulah senjata Mo, mengangkat kakinya dan menginjak ujung rantai itu.
SET!
Terlambat, sebelum kaki Eve sempat menyentuh bandul rantai itu, Mo sudah menariknya dan dengan kecepatan luar biasa menyerang Eve lagi.
TRANG! TRANG! TRANG!
Berkali-kali rantai Mo melesat cepat ke arah kepala dan perut Eve bergantian dan berkali-kali pula Eve berhasil menangkis serangan itu dengan mengayunkan pedangnya di saat yang tepat.
WUTT!
Sekali lagi Mo menyerang. Tapi kali ini berbeda, Eve menghindar dengan manis ke samping lalu menangkap rantai yang belum sempat ditarik kembali oleh si empunya. Rantai itu ditarik sehingga Mo melayang ke arah Eve. Dan sebelum Mo berpikir bagaimana mengatasi hal ini..
BHUAKK!!
Pukulan Eve menghantam telak wajahnya sehingga kepala Mo hingga ke leher terbenam di tanah, kakinya bergerak-gerak liar di udara.
Melihat dua temannya ambruk, Coco berjalan pelan mendekati Eve.
Eve segera memasang kuda-kudanya lagi.
Ketika jarak mereka berdua semakin dekat, mendadak Coco membungkuk, memberi salam sebelum memulai pertarungan.
Eve memandang Coco beberapa saat tanpa ekspresi walaupun di hatinya bertanya-tanya.
“Ayolah, Co! Dia jahat! Jadi tak perlu memberi salam seperti itu!” seru Pemuda Bertongkat setelah melongo seben-tar melihat Coco bersopan santun.
Tapi Coco tidak mempedulikan seruan majikannya dan tetap membungkuk, menunggu salamnya dibalas.
Evepun akhirnya ikut membungkuk.
Setelah itu, mereka berdua memasang kuda-kuda.
PLAAK!
Pipi Eve terasa panas, ternyata Coco telah menampar-nya dengan kecepatan gerakan yang membuat hati Eve mencelos.
“Tamparan?” pikir Eve seraya membalas pukulan Coco dengan sabetan pedangnya dari atas.
Coco melompat ke kanan menghindari sabetan pedang Eve, tapi Coco lupa, Eve menyabetkan pedangnya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya kosong, sehingga..
BHUAKK!!
Coco terlempar beberapa meter ke udara lalu terjatuh di tanah. Dan ketika Coco bangun dari jatuhnya, pedang Eve telah dipukulkan ke atas kepalanya.
BUMM!
Tubuh Coco dari kaki sampai leher melesak di tanah. Tinggal kepala Coco yang benjol terlihat di atas permukaan tanah.
Eve menoleh ke tempat Pemuda Bertongkat berdiri. Pemuda itu sedang memegang kepalanya sendiri yang tidak pusing sambil menggeleng-gelengkannya.
Eve berjalan pelan ke arah pemuda itu sambil memanggul pedangnya. Dan ketika jarak mereka tinggal lima meter..
GUSRAKK!
Dempsey, Mo dan Coco keluar dari dalam tanah di depan Eve. Masing-masing memasang kuda-kudanya.
WUTT!
Coco memukul Eve. Eve menancapkan pedangnya ke tanah dan melompat memanfaatkan pedang itu. Coco kebablasan, sedang Eve mendarat di atas pedangnya yang sekarang menimpa kepala Dempsey dan Mo yang terlambat menghindar. Dempsey dan Mo meraih-raih Eve yang ada di atas kepalanya dengan sangat bernafsu, tapi hal itu percuma, karena tikus tanah punya tangan yang pendek.
Coco segera berbalik dan melompat menendang Eve yang sekarang salto ke belakang, lalu secepat kilat maju ke depan sambil menggaet kaki Dempsey dan Mo yang entah kenapa selalu terlambat bereaksi.
GUBRAK!
Kedua tikus itu roboh, Coco yang sekarang sedang melayang membelalakkan matanya melihat kebawah.
Kaki Eve sedang menendang ke arah Coco dari posisinya yang kini berada tepat dibawah Coco.
BUGG!!
Coco tertendang telak dan meluncur ke arah Pemuda Bertongkat. Pemuda itu menangkap Coco hingga terjatuh ke belakang. Belum lagi Pemuda itu bersiap, Dempsey dan Mo yang dilemparkan Eve meluncur ke arahnya.
GEDABRUK!
Keempat makhluk itu bertindihan. Pemuda itu diposisi paling bawah tertindih ketiga tikus tanahnya yang mengerang pelan sambil berusaha berdiri.
Beberapa saat kemudian, tiga tikus tanah itu sudah bisa berdiri. Dempsey merengut sambil berkacak pinggang, Mo mengelus-elus kepalanya yang agak benjol setelah membentur tanah, sedangkan Coco membungkuk hormat lagi ke arah Eve sehingga benjolan di kepalanya lebih jelas terlihat.
Di depan mereka, Eve berdiri dengan gagahnya, tangan kanan memegang gagang pedang yang diberdirikannya, sementara tangan kiri tergantung bebas mengepal. Matanya memandang keempat makhluk di depannya tidak berkedip dan tetap tanpa ekspresi.
“Ini pertarungan kita. Jangan libatkan yang lain, Pengecut!” seru Eve.
“Kau bilang jangan libatkan yang lain padahal kau baru saja membunuh orang tak berdosa! Dan aku seorang Rihis sekaligus Pemanggil, apa yang kau harapkan dari aku? Bertempur langsung?” sahut Pemuda Bertongkat setelah berhasil berdiri. Matanya menyipit, memandang Eve dengan sangat jengkel.
Betapa kagetnya Pemuda Bertongkat sepersekian detik setelah matanya berkedip. Pedang Eve sudah menempel di lehernya memberikan sensasi dingin luar biasa ke seluruh bagian tubuhnya.
“Kalau memang aku yang membunuh mereka, sekarang juga aku bisa membunuhmu…” bisik Eve di telinga Pemuda Bertongkat yang sekarang hanya bisa diam terpaku sambil mencoba mengendalikan tubuhnya yang bergetar.
Dempsey, Mo, dan Coco yang tadi berada di depan kini menoleh bergantian ke arah Eve tadi berdiri dan sekarang bergantian dengan rahang bawah terbuka lebar dan mata melotot, terpana melihat kecepatan Eve.
“Aku akan menurunkan pedangku setelah ini yang akan kau ikuti dengan mengembalikan ketiga tikus tanahmu ke tempat mereka. Kalau tidak, aku terpaksa membunuhmu sesuai prasangkamu. Bisa dipahami?”
“Oke…oke…” bisik Pemuda Bertongkat segera.
Sesaat setelah itu, mereka berdua melakukan hal yang sudah mereka sepakati. Eve menurunkan pedang yang menempel di leher Taufo lalu memasukkannya ke sarung pedang yang di cangklong di punggungnya. Sementara itu Pemuda Bertongkat melafalkan mantra mengembalikan para tikus tanah ke dimensinya lalu mengetukkan ujung tongkatnya ke tanah.
“Ripasid!”
Diikuti suara “PLOP!” pelan, ketiga tikus tanah menghilang seiring anggukan hormat Coco ke arah Eve.
Pemuda Bertongkat berjalan pelan di belakang Eve yang sekarang sedang menuju ke sebuah rumah.
“Hei! Namaku Taufo Ra’ad. Boleh kutahu siapa namamu?” seru Pemuda Bertongkat yang diacuhkan oleh Eve.
“Aku belum bisa minta maaf kalau belum tahu namamu!” lanjut Taufo seraya berlari dan berhenti di depan Eve sambil merentangkan kedua tangannya ke samping menghalangi Eve untuk melewatinya.
“Belum kapok rupanya,” ujar Eve pelan seraya mengangkat tangan kanannya meraih pedang di punggungnya lalu menyabetkannya ke arah Taufo seraya berkata “Minggir!” tanpa ekspresi.
WUTT!
Merasa Taufo tidak akan menghindar, Eve menghen-tikan pedangnya tepat satu senti di atas dahi Taufo.
“Kenapa kau tidak menghindar?” tanya Eve datar.
“Kalau kau memang bukan pembunuh mereka,” sahut Taufo sambil menjentikkan kepala ke mayat-mayat yang bergelimpangan di salah satu sudut desa, “Aku yakin kau tidak akan membunuhku hanya karena hal se-sepele ini,” lanjut Taufo sambil tersenyum.
“Bukan berarti aku tak bisa memukulmu.”
Mata Taufo membelalak kaget, dan..
BHUAGG!, kepalan tangan kiri Eve mendarat tepat di hidung Taufo yang membuatnya terlempar lima meter ke belakang dan menabrak dinding rumah yang dituju Eve.
“Cewek sialan yang aneh.” umpat Taufo pelan sambil mengelus kepalanya yang terantuk dinding.
Eve berjalan masuk ke rumah yang ditujunya. Menoleh ke kanan-kiri, mencari sesuatu. Rumah itu tampak rapi, beberapa perabotan dari kayu menghiasi ruang tamunya, dan sebuah foto keluarga tergantung di sebuah dinding kosong.
Pandangannya terhenti di foto itu. Dia melihat Ibu yang tadi di dekapnya dalam foto itu. Ada dua orang anak kecil disana, satu laki-laki dan satu perempuan. Seorang laki-laki berkumis lebat berdiri di samping mereka bertiga.
Eve kemudian mengalihkan pandangan mencari benda yang diharapkannya ada di rumah ini. Dia berjalan ke salah satu ruangan dan menemukan cangkul yang dicarinya.
Sesampai di luar rumah, Eve melepas sarung pedangnya lalu menyandarkannya di dinding depan rumah yang tadi dia masuki. Pelan tapi pasti, Eve melangkah ke tengah desa. Dicangkulnya tanah keras di hadapannya.
Taufo berdiri dari tempatnya terduduk bersandar, menepuk-nepuk pantatnya yang tidak terlalu kotor lalu mengangkat tongkatnya. Tongkatnya diarahkan ke Eve. Diayunkannya tongkat itu keatas dan saat itu juga Eve terangkat ke udara pelan.
Eve menoleh tanpa ekspresi ke arah Taufo seolah bertanya jengkel “Apalagi yang kau lakukan?”
“Turunkan aku,” ujar Eve tanpa ekspresi memandang Taufo.
“Nggak! Diam saja dulu sebentar disitu,” sahut Taufo ketus tanpa memandang ke arah Eve.
Perlahan tongkat yang tadi mengarah ke Eve diturunkan Taufo. Kini sambil memejamkan mata, Taufo mengangkat tongkatnya dengan kedua tangan di depannya. Mendadak semua tubuh tak bernyawa di desa itu melayang. Tak setinggi Eve, tapi melayang dengan ringannya di udara. Eve yang hampir marah sekarang menutup mulutnya.
Taufo membuka matanya. Kembali tongkat panjang itu diturunkan pelan. Sekejap kemudian mulutnya berkomat-kamit, alisnya mengkerut dan matanya tertutup. Dan ketika matanya terbuka, dia memandang tanah di depannya tajam.
“BLARR”, suara ledakan di tanah mengiringi terbentuk-nya sebuah lubang di tanah. Lubang yang cukup besar untuk memasukkan jenazah-jenazah yang kini melayang pelan, turun dengan anggun saat Taufo menurunkan tongkatnya.
Setelah semua jenazah itu masuk ke dalam lubang, Taufo memutar tongkatnya lalu menghentakkannya ke tanah. Gundukan tanah yang tadi menggunung di sisi-sisi lubang kini terangkat dan jatuh perlahan menutup lubang jenazah di tengah desa itu.
“Huff,” hela nafas Taufo. “Semoga kalian semua tenang di alam sana,” lanjut Taufo sambil bersimpuh di depan gundukan besar di depannya.
Taufo beranjak dari tempatnya bersimpuh. Memandang sedih desa itu dari ujung hingga ke ujung.
“Maaf, aku harus pergi. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Aku janji suatu saat nanti akan mengunjungi kalian lagi disini,” ujar Taufo pelan. Dibalikkannya badan dan mulai melangkah ke arah hutan.
Langkah Taufo sudah melewati gapura desa ketika mendadak ia teringat sesuatu. Kepalanya menoleh sangat cepat diikuti putaran tubuhnya. Dia berlari ke tempatnya menguburkan orang-orang desa tadi lalu mencari-cari sesuatu. Ketika yang dicari tidak ada di tempatnya tadi ditinggalkannya, Taufo mulai kebingungan. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, dicarinya lagi perempuan menjengkelkan yang tadi sudah memukulnya.
“Namaku Eve Hud, terima kasih dan selamat jalan.”
Sebuah suara tiba-tiba terdengar di belakangnya. Sontak Taufo terlonjak kaget.
“KAMU ITU! HHRGH!” semprot Taufo setelah menguasai kekagetannya sambil mengepalkan tangan ingin memukul setelah berbalik dan melihat Eve berjalan menjauhinya ke arah hutan.
“TAP TAP TAP” Taufo mengejar Eve, dan setelah sampai di sampingnya, “Nama yang bagus! ‘Eve’ dari Perempuan dan ‘Hud’ dari Utusan, em.. bukan, Nabi lebih tepatnya. Benar?” ujar Taufo cepat. “Kalau aku… ‘Taufo’, artinya Tegar. Sedangkan ‘Ra’ad’ artinya Petir. Keren kan namaku?” lanjut Taufo seraya tersenyum manis ke arah Eve yang dengan ekspresi tak pernah berubah tetap melangkahkan kakinya kedepan tidak peduli.
“Aku dari Benua Calfar, Desa Sava. Kamu dari mana? Sepertinya Benua Hogatha, ya? Logatmu kental sekali sih, hi..hi..
“Aku jadi ingat sama temanku, dia juga dari Hogatha. Logatnya bener-bener kental. Orangnya cerewet, tapi suka bercanda, baik banget, yah pokoknya banyak kebaikannya deh. Dia it…”
“Gimana kalau kau cari saja temanmu itu, lalu ceritakan sesuatu padanya seperti kau bercerita padaku saat ini. Aku nggak suka keramaian, dan kecerewetanmu membuat suasana disekitarku ramai,” cerita Taufo terputus ketika mendadak Eve memotong bicaranya, masih dengan tanpa ekspresinya dan tanpa berhenti berjalan.
Langkah Taufo terhenti. Setelah mendesah pelan dengan kepalanya yang terkulai layu, dia kembali tersenyum lalu kembali memasang wajah ceria dan melangkah cepat menyu-sul Eve.
“Aku jadi ingin tahu, kenapa kamu sendirian? Tujuanmu kemana? Ada apa di tempat tujuanmu? Kalau sudah sampai, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Taufo tanpa jeda.
Eve hanya diam, pandangannya tetap lurus ke depan.
“Aku akan ikut denganmu, apapun yang akan kau katakan, apapun yang akan kau lakukan padaku. Dan jangan tanya padaku kenapa kulakukan ini, aku tidak tahu jawabannya. Aku hanya merasa kalau aku ikut denganmu, maka tujuanku akan bisa kucapai. Maaf aku memaksakan keinginanku, tapi.. aku harus melakukannya,” ujar Taufo kemudian.
Eve menghentikan langkahnya. Pelan, ditolehnya Taufo dan dipandangnya dengan pandangan yang sama seperti ketika mereka pertama kali bertemu. Taufo yang bingung jadi salah tingkah. Kepalanya yang tidak gatal digaruknya sambil memandang ke bawah. Dan ketika kepalanya sudah dirasa hampir lecet karena terlalu lama digaruk tanpa sebab, dia mengangkat wajahnya ke depan. Betapa kagetnya Taufo ketika melihat Eve sudah berada jauh di depannya.
“EVEEE! SIALAN KAMUUU!” teriaknya sambil berlari mengejar Eve.

Chapter 1. “Kenangan”

Hutan itu akan terlihat sangat gelap kalau saja matahari tak mau meneroboskan anak-anak cahayanya melewati dedaunan yang tidak bisa dibilang jarang. Mungkin hal itu juga yang membuat jalan setapak menuju Desa Hamur menjadi terlihat sangat angker untuk dilewati. Hampir tidak ada yang bisa membedakan antara siang dan malam di jalan itu. “Hampir” adalah kata yang paling tepat, karena selain dari anak-anak sang mentari, siang hari di hutan itu juga hanya bisa ditandai dari suara burung-burung pengicau dan hewan-hewan kecil yang terlihat sedang bermain-main di dalamnya.
Seekor kelinci berwarna putih meloncat dari balik semak-semak, dia menoleh ke kiri-kanan. Hidungnya bergerak-gerak mencari bau makanan. Ketika dia mendengar sebuah bunyi yang dianggapnya berbahaya, diapun segera menyeberang jalan setapak itu, berhenti di tengah jalan sejenak, berdiri dengan dua kakinya lalu menggerak-gerakkan hidungnya kearah suara tadi berasal.
“Bukan bau makanan!” pikirnya. Diapun segera menurunkan dua kaki depannya dan mengarahkan telinganya ke asal suara tadi didengarnya. Mendadak ekspresinya berubah, secepat kilat dia berbalik dan melompat ke semak-semak. Sambil bersembunyi, dia mengintip. Dilihatnya sesosok makhluk yang selalu dibicarakan oleh binatang-binatang hutan. Manusia!
Manusia itu berambut panjang. Rambut yang diikat di belakang itu bergerak-gerak terlambat mengikuti gerak tubuhnya yang tinggi semampai. Kulitnya yang putih seperti pualam tak terhias senyum dari wajahnya yang tanpa ekspresi. Pandangan matanya yang hampir seperti orang mati dan sayu memandang lurus ke depan dan sama sekali tidak pernah melirik ke kanan maupun ke kiri. Dia memakai pakaian yang membuat lehernya tertutup, tetapi lengan bagian atasnya terbuka. Sebuah pedang yang amat besar tersampir di belakangnya dan tali pengikat sarung pedang itu membelah dadanya tepat di tengah. Rok sepanjang 7/8 kaki dengan belahan sepanjang samping hingga ke paha membuat kaki jenjangnya terlihat sangat mantap menapaki jalan tanah berdebu yang dilaluinya. Beralaskan sepatu bot tinggi, kedua kaki itu melewati Si Kelinci yang masih dengan penasaran mengintip dari sela-sela dedaunan.
Tiba-tiba kelinci itu kaget dan segera merunduk waspada ketika perempuan itu berhenti. Perempuan itu menoleh kekiri, tetapi pandangan matanya menyipit dan mengarah ke depan. Gerakan yang biasanya dipahami Si Kelinci sebagai “Mena-jamkan pendengaran”. Kelinci itupun beringsut pelan keluar dari tempat persembunyiannya. Dia mengangkat kedua kaki depannya dan mencoba ikut mendengarkan apa yang dide-ngar perempuan itu. Dan dia kaget bukan kepalang ketika mendengar suara yang melengking tinggi disertai bergerak-nya perempuan tadi ke arah suara itu cepat-cepat.
“Perempuan itu berlari!” pikirnya.
Perempuan itu semakin dekat dengan suara tadi berasal. Dan ketika dia semakin dekat, larinyapun melambat, semakin lambat dan akhirnya berhenti. Mata perempuan itu membelalak, mulutnya tertutup dan diam tak bergeming. Didepannya tergeletak puluhan mayat dengan kondisi yang semuanya hampir sama, meninggal dengan luka sayatan di tubuh atau terpotong bagian tubuhnya. Rumah-rumah di tempat yang diberi nama Desa Egall itu tidak ada yang rusak parah, tetapi semua penduduknya dalam keadaan meninggal. Perlahan perempuan itu bergerak. Tanpa ekspresi, matanya meneteskan air mata.
“To…long…”
Perempuan itu mendengar sebuah suara yang sangat lemah. Diapun segera menoleh mencari dari mana suara itu berasal. Dan ketika dia menemukannya di salah satu sudut desa, dia serentak berlari menghampiri si empunya suara.
Pemilik suara itu seorang Ibu yang sedang hamil tua. Ibu itu terluka di bagian depannya. Dari bahu kiri hingga pinggul kanan terlihat sebuah luka sayatan yang sangat dalam. Dari luka itu bisa dilihat bahwa bayi yang dikandung oleh Sang Ibu juga sudah tidak bernyawa. Perempuan itu mengangkat pelan Sang Ibu ke pelukannya. Kepala Sang Ibu ditinggikan agar darah yang keluar dari mulutnya tidak masuk semakin banyak ke hidung.
“Anakk…uhuk..ku..” Sang Ibu berkata sambil memuntah-kan darah yang mengalir melewati lehernya.
“Tenang, Bu. Anak Ibu tidak apa-apa, Ibu tenang ya? Saya akan segera merawat Ibu.” sahut perempuan itu cepat-cepat. Matanya mulai bekaca-kaca, tak sanggup menahan gejolak yang mengharu biru menyeruak dinding hatinya.
Perempuan itu tahu bahwa nyawa anak Sang Ibu tidak bisa diselamatkan, dan diapun tahu kalau Sang Ibu juga akan segera menyusul anaknya. Tapi dia tidak tega mengatakan yang sejujurnya kepada Ibu itu. Dan diapun tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolong Ibu itu. Yang justru tidak ingin dia lakukan tetapi terjadi dengan sendirinya adalah air matanya yang tak kunjung berhenti mengalir. Dan saat dia berpikir keras bagaimana dia bisa membantu meringankan rasa sakit Sang Ibu..
“Anak…ku..” suara terakhir disertai terkulainya kepala Sang Ibu membuat perempuan itu sadar, Ibu itu telah meninggal.
Perempuan itu terdiam sejenak. Ekspresi wajahnya yang tak pernah goyah perlahan berubah. Kedua alis tipis diatas matanya sekarang menyatu. Mata bening yang tadinya meneteskan air mata kini memerah menandakan betapa marahnya dia.
“IFREEEEEEEETT!!”, teriak perempuan itu sekeras-kerasnya. Dia berharap sang pemilik nama muncul di depannya.
Sekejap ingatannya berlari, menuju masa lalu, yang tak akan pernah bisa dia hapus selama nyawanya masih menempel di raga.

***

Pasar tradisional itu begitu ramai. Aneka penjual sayur, bumbu, makanan, minuman, dan mainan ada disitu. Beberapa pembeli yang lalu lalang sambil membawa barang yang baru saja dibelinya semakin menambah hiruk pikuk pasar itu. Ibu-ibu yang sedang tawar menawar harga dengan si empunya toko meramaikan suasana pasar, dan bahkan pedagang keliling yang selalu bepergian ke desa-desa di sekitar benua Hogatha berteriak-teriak mencari orang yang mau membeli dagangan di keretanya.
Si Pedagang Keliling tidak sadar kalau di belakangnya seekor kelinci gendut dengan dua warna –hitam dan putih–sedang bersembunyi di baliknya. Kelinci ini menggerakkan telinga kirinya yang beranting bulat sejumlah tiga berderet ke arah dimana dia kira pengejarnya akan datang. Sambil tetap meringkuk, matanya yang dilingkari warna putih mencari-cari Si Pengejar agar dia tidak sampai ketahuan.
“KETEMUUU!!”
Betapa kagetnya Si Kelinci ketika pengejarnya menemukannya. Karena kaget, Si Kelinci terlompat hingga terjengkang ke belakang. Keempat kakinya semua mengarah keatas dan matanya memberikan pandangan jengkel ke arah pengejarnya.
Dan ketika Si Pengejar hendak menangkapnya, tiba-tiba sebuah sosok tinggi besar berdiri di depannya.
“EEEVE!!!” Si Pedagang Keliling berteriak di depan anak perempuan kecil yang baru saja menemukan kelincinya yang diajak bermain petak umpet. Anak kecil berambut sebahu itu kontan kaget sampai rambut yang baru disisirnya setelah mandi tertiup ke belakang. Matanya terpejam rapat menahan angin yang bertiup tiba-tiba dari mulut seorang pendagang keliling.
“Ya, Paman?” sahut Eve kemudian –setelah rambutnya kembali tergerai bebas sekitar satu menit kemudian– sambil menggerakkan badan ke kanan dan ke kiri sembari meletak-kan kedua tangannya ke belakang, gaya khas anak kecil yang merasa bersalah.
Gigi Si Pedagang Keliling bergemeretak menahan marah. Tangannya yang membentuk cakar seperti ingin mencabik-cabik berada tepat di depan Eve. Tapi kemudian pelan-pelan dia menurunkan tangannya dan menahan gemeretak giginya.
“LIDYAAA!!” seru Si Pedagang Keliling. “Kau! Tetap disini!” lanjut Si Pedagang Keliling ketika melihat Eve sudah membuat gerakan akan berlari saat Ibunya dipanggil.
Si Kelinci yang tidak jadi tertangkap kembali berdiri, menyilangkan kedua kaki belakangnya sambil meniup jari-jari kaki depan kanannya sementara kaki depan kirinya menyangganya di tembok. Matanya melirik Eve yang sekarang memelototinya seraya menarik bibirnya kedepan. Si Kelinci yang tidak kuat menahan tawa sekejap kemudian sudah bergulingan di samping kaki Si Penjual Keliling sambil memegangi perutnya yang terasa kaku, tertawa terpingkal-pingkal tanpa suara.
Sementara itu, seorang perempuan berumur tiga puluhan yang sedang hamil tua berlari tergopoh-gopoh menuju ke tempat kejadian perkara. Perempuan itu mengenakan daster panjang berwarna biru muda, rambutnya yang lurus sebahu tertutup sebagian oleh bandana kuning pucat yang dipakai-nya. Ketika sampai, dia melihat anaknya –yang sekarang merasa bersalah lagi dan memandang kebawah sambil kembali menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri– mencuri-curi pandang ke arahnya.
“Apa yang Eve lakukan, Zam?” tanya Lidya pada Azam, Si Pedagang Keliling sambil memandang tajam ke arah Eve.
“Ajari anakmu sopan santun dong, Lid! Masa dia teriak-teriak tanpa kenal tempat? Paling enggak yaa… jangan main-main di pasar gitu?!” sahut Azam bersungut-sungut.
“OK..OK.. Eve! Sini!” dipanggilnya Eve ke dekatnya. “Minta maaf sama Om Azam!” sambungnya cepat.
“… Maafin Eve ya, Om?” ujar Eve pelan, matanya melirik ke mata Azam yang lebih tinggi darinya sementara kepalanya masih tertunduk. Bibirnya sedikit manyun.
Azam yang masih jengkel memandang Eve dengan tatapan yang tidak bersahabat. Lalu akhirnya dijawab juga pertanyaan Eve, “Ya! Tapi kalo kamu sekali lagi kaya gitu… Kupukul pantatmu di depan Ibumu! Boleh, Lid?” tanya Azam.
“Ya, ya… Terserah kau saja,” sahut Lidya sambil menjewer telinga Eve dan menjauh dari Azam.
Azam yang masih jengkel mengumpat-ngumpat tidak jelas di belakang Eve dan Ibunya yang semakin menjauh.
Kelinci yang tadi terpingkal-pingkal kini melompat-lompat kecil mengikuti Eve dan Ibunya. Tiba-tiba dia berlari terbirit-birit ketika tahu Eve kembali mengejarnya setelah melepas telinga dari jeweran Ibunya.
“Pippiii! Sini! Kamu kan sudah ketahuan!” teriak Eve sambil berlari memanggil-manggil kelincinya yang bernama Pippi.
Lidya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat anak sulungnya berlari mengejar binatang pelihara-annya.
“Dasar!” serunya pelan seraya berbalik ke tempatnya berjualan makanan kecil.
“Pippi! Awas kamu kalo ntar ketangkep! Kujewer telingamu biar tambah panjang!” teriak Eve yang masih berlari mengejar kelincinya seraya menghindari orang-orang yang lewat di pasar. “Maaf, Tante Dia!” tukasnya sambil tersenyum setelah menabrak seorang perempuan yang sedang berjalan menggendong jamu dagangannya hingga berputar di tempat.
Pippi yang tidak mau mengalah tetap berlari sambil menoleh ke belakang dan menjulurkan lidahnya ke arah Eve yang sekarang berteriak sambil menyipitkan mata kanannya.
“Awas, Pi! Di depanmu ada keran..” GUBRAK! “..jang!”
Pippi yang tadi berlari tanpa melihat ke depan sekarang terduduk puyeng. Di atas kepalanya berputar bintang-bintang diselingi burung-burung kecil yang ramai bersiul-siul dan sayangnya hanya Pippi sendiri yang bisa melihatnya.
Pippi membalikkan badannya, dilihatnya Eve yang seka-rang terlihat menjadi dua berjalan mendekatinya sambil menutup mulutnya, tertawa tertahan.
Belum selesai pusing yang dialaminya, Pippi merasakan sakit di ekornya. Ekornya serasa mau putus sampai dia terlompat hampir satu meter. Seketika dia lari menuju ke tangan Eve yang kini terbuka lebar di depannya.
“Makanya! Kalo udah ketahuan ya nyerah!” kata Eve yang sekarang menggendong Pippi seraya menunjuk ke keranjang yang ditabrak Pippi. “Tuh, ada kepiting di dalam keranjang,” lanjut Eve masih terpingkal-pingkal berjalan ke tempat Ibunya berjualan.
“Gitu tuh kalo nggak mau nurut sama aku,” kata Eve ketika sampai di tempat yang ditujunya seraya memonyong-kan bibirnya dan menyodok-nyodok perut Pippi pelan.
Pippi yang sedang digendong Eve ikutan memonyongkan bibir sambil bersedekap dan melirik ke arah lain.
“Kenapa Pippi, Eve? tanya Lidya.
“Ini, si Pippi nabrak keranjang kepitingnya Bu Giza. Ekornya kecapit deh,” jawab Eve masih menahan tawa.
“Ndak boleh gitu dong! Dulu katanya kalo punya kelinci mau dirawat, eeh sekarang kelincinya sakit kok malah diketawain?”
Eve memandang Pippi, lalu menempelkan pipinya ke pipi kelinci yang digendongnya. “Iya…iya… maafin Eve ya Pi?” sahut Eve cepat yang diikuti mengembangnya senyum Pippi ke arah majikannya.
Tiba-tiba mata Pippi mengerut. Telinganya mengarah ke suatu tempat.
Eve yang kaget melihat perubahan ekspresi Pippi bertanya, “Ada apa, Pi?”
Namun mendadak Pippi meloncat dari gendongan Eve. Dia berlari ke arah hutan yang memang dekat dari Desa Hamur. Eve yang bingung dengan tingkah laku Pippi serentak mengejarnya sambil berteriak-teriak memanggil Pippi.
“Pippiiii!”
“Hati-hati di hutan Evee!” teriak Ibunya khawatir melihat anaknya yang berlari tanpa mendengar seruan darinya.
“Pippiii, kamu dimana? Keluar dooong! Petak umpetnya kan udah selesai!” seru Eve sambil mencari-cari Pippi diantara rimbunnya tanaman hutan.
Tanpa disadari Eve, Pippi yang sejak tadi bersembunyi di semak-semak belakangnya menggigil ketakutan. Mata kecil-nya mengerut hingga hampir tidak kelihatan, bulu halus yang tumbuh di hampir seluruh tubuhnya berdiri tegak, dan keempat kakinya gemetar tak terkendali.
Beberapa detik kemudian terdengar banyak suara teriakan dari arah desa. Eve yang sibuk mencari-cari Pippi langsung terdiam mematung melihat ke arah desa yang hanya tampak gapuranya saja dari tempatnya berdiri.
Pippi yang tadi gemetar sekarang terguncang hebat. Telinganya yang lebih peka dari telinga manusia mengartikan sesuatu yang mengerikan sedang terjadi di desa majikannya. Hal itu dia simpulkan dari banyaknya suara teriakan dari arah desa. Dan teriakan-teriakan itu bukanlah teriakan gembira, bahagia, maupun suka cita. Tetapi teriakan ketakutan dan teriakan kesakitan.
Beberapa saat kemudian teriakan-teriakan itu berhenti. Eve masih terdiam di tempatnya berdiri, seluruh tubuhnya kaku tidak bergerak. Pippi yang menyadari hilangnya suara-suara menakutkan itu beranjak dari tempatnya bersembunyi, beringsut pelan mendekati majikannya yang mematung.
Melihat Eve yang tidak bergerak Pippi mengangkat kedua kaki depannya dan memeluk kaki majikannya itu ketakutan.
Pelukan Pippi di kakinya membuat Eve sadar. Dia melihat Pippi yang gemetar ketakutan lalu mengangkat Pippi ke gendongannya, kemudian bergerak pelan menuju ke desanya.
Naluri Eve mengatakan kalau sesuatu yang buruk sedang terjadi di desanya. Bergerak semakin cepat dan semakin cepat, Eve lari menuju desanya. Dan betapa kagetnya Eve ketika hampir sampai di gapura desa.
Beberapa sosok yang dikenalnya tergeletak dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Tetangganya, Pak Alo, kepalanya tergeletak miring sekitar 10 meter dari gapura, sementara sebuah tubuh tanpa kepala tergeletak tepat di bawah gapura.
Tante Dia, perempuan penjual jamu gendong yang tadi ditabraknya ketika mengejar Pippi sekarang tergeletak tengkurap dengan luka sayatan panjang di punggungnya dari bahu kiri hingga kaki kanan.
Demikian juga dengan Mas Archie, Mbak Dira, Mbak Ginnie, Om Azam –Si Pedagang Keliling–, Bu Giza dan masih banyak orang lain yang dikenalnya di desa itu. Mereka semua meninggal dengan kondisi yang sama sekali tidak manusiawi, luka sayatan di bagian tubuh, terpotong tangan-nya, kakinya, kepalanya, dan bahkan separuh tubuhnya.
Eve tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya melangkah pelan melewati mayat-mayat orang yang dikenalnya sembari meneteskan air mata tanpa suara dan tanpa ekspresi semen-tara dalam dekapannya Pippi melesakkan kepalanya ke ketiak Eve, tak mau melihat apa yang dilihat majikannya.
Pelan terdengar suara Ibunya.
“Eve… Eeeve…”
Eve menoleh ke asal suara tersebut didengarnya, dan ketika dia menemukan perempuan yang melahirkannya itu tergeletak, dia hanya bisa terpaku, menangis seraya gemetar melihat Ibunya memandangnya dengan tatapan sayu. Perut Ibunya yang sedang mengandung adik yang diharapkan akan menemaninya bermain kini tertusuk sebuah pedang.
Pedang yang terlihat sangat mengerikan. Pedang itu memiliki panjang rata-rata, tetapi yang paling menakutkan dari pedang itu adalah matanya. Pedang itu memiliki mata kecil dengan pupil berwarna merah menyala dengan tatapan yang bisa membuat tubuh gemetar. Dibawah mata itu ada sebuah mulut yang membentuk seleret garis. Mengelilingi mata, ada bentuk yang menyerupai kaki berjumlah delapan, mirip dengan kaki laba-laba. Kaki-kaki yang bergerak-gerak menjijikkan diikuti oleh terpejamnya mata itu pelan-pelan.
Dan ketika mata itu kembali membuka, sebuah seringai jahat terbentuk dari mulutnya. Eve semakin terpaku dan semakin bergetar oleh aura yang dikeluarkan mata dari pedang itu.
Mata itu melirik ke bawah. Pelan tetapi pasti, pedang itu menarik dirinya dari tubuh Lidya diiringi teriak kesakitan yang membuat hati menciut dan darah segar keluar dari mulut serta luka tusukan pedang.
Dalam kesakitannya Lidya sadar, pedang itu akan membunuh anak pertamanya, sebagaimana anak keduanya yang tertusuk mati di perutnya. Untuk menghalangi hal itu, rasa sakit macam apapun akan dia tahan.
Tangan Lidya yang sudah sangat lemas dikuatkan dan diangkatnya, bergerak menahan laju pedang yang sedang menarik diri. Dipegangnya pedang itu dan digenggamnya erat-erat hingga telapak tangannya tersayat dan mengeluarkan darah juga.
Dengan sisa-sisa kekuatan yang dimilikinya, Lidya berkata kepada Eve, “Eve..uhuk.. lari nak! Tinggalka.. uhuk.. tinggalkan Ibu dan selamatkan diri.. uhuk.. mu! Ce…pat!” kata-kata yang semula dipersiapkan sebagai teriakan itu tak lagi berfungsi, yang keluar hanya sebuah suara lirih yang hampir tak terdengar.
Tetapi Eve yang meskipun bisa mendengar kata-kata ibunya, tidak bisa beranjak dari tempatnya. Dia hanya bisa meneteskan air mata tanpa suara dan wajah tanpa ekspresi. Pippi menoleh melihat Lidya perlahan, gemetar tak tertahan membuatnya tak beranjak dari tempatnya.
Tahu dirinya ditahan, pedang itu bergerak semakin liar dalam usahanya mencabut diri. Dan gerakan liar itu membuat Lidya semakin kesakitan karena luka di perutnya menjadi semakin lebar dan jari-jemarinya hampir putus. Lidyapun memuntahkan darah semakin banyak dari mulutnya.
Dalam hitungan detik, pedang itu berhasil melepaskan dirinya dari tubuh Lidya. Tubuh Lidya bergetar tak terkendali merasakan sakit yang amat sangat.
Mengambang, perlahan pedang itu mengarahkan dirinya untuk menusuk Eve, sementara Lidya terengah-engah meng-hirup udara sebanyak-banyaknya, mencoba bertahan hidup sedikit lebih lama untuk menyelamatkan nyawa anaknya.
Pedang itu melesat cepat membelah udara di depan Eve. Eve yang sedari tadi tidak bisa bergerak kini kakinya serasa dibebani berton-ton pasir yang membuatnya semakin tidak bisa bergerak.
Lidyapun dalam sisa-sisa waktu hidupnya berteriak keras. “Pippi! Perisaaai!”
Pippi yang sedari tadi hanya bisa gemetar ketakutan seakan ditampar oleh sebuah tangan raksasa. Tersadar oleh teriakan Ibu majikannya bahwa dia harus membalas kebaikan majikannya selama ini dengan mengorbankan dirinya agar sang majikan tetap hidup.
Pippi meloncat dari dekapan Eve sambil bertransformasi. Eve terpelanting ke belakang karena dorongan kaki Pippi. Tubuh Pippi membesar dengan cepat menjadi perisai besar berbulu, perutnya yang semula gendut kecil sekarang membesar membentuk perisai bundar berdiameter hampir dua meter, keempat kakinya kini berubah menjadi dua tangan yang membuka kesamping kanan dan kiri tubuhnya serta dua kaki yang membuka lebar menghalangi apapun yang bisa menyakiti majikannya.
Pedang itu kini menghujam dada Pippi. Pelan tetapi pasti, pedang itu mulai menembus tubuh Pippi yang setelah berubah menjadi perisai memiliki kekuatan untuk menahan serangan yang kuat. Tetapi sekuat apapun pertahanan Pippi, pedang yang tak memiliki hati itupun akhirnya memenangkan adu kekuatannya. Pedang itu menembus tubuh Pippi semakin dalam, darah segar mengucur dari dadanya, dan akhirnya ujung pedang tersembul dari punggung Pippi diikuti aliran darah yang semakin deras keluar.
Dengan kekuatan yang tinggal sedikit, Pippi menoleh dan meraung ke belakang. Pippi mengayun-ayunkan kepala ke arah hutan kepada Eve dengan harapan agar majikan yang disayanginya pergi menyelamatkan diri. Tapi lari bukanlah hal mudah bagi Eve yang sekarang malah ambruk tersimpuh di atas tanah. Tubuhnya serasa ditekan untuk tidak bisa menggerakkan satu ujung jaripun.
Pippi masih saja meraung dengan raungan yang semakin lama semakin lemah dan tak berdaya. Dia berharap agar punya dua tubuh agar salah satunya bisa menyelamatkan majikannya tersayang.
Dalam sisa-sisa napasnya, Lidya mencoba berteriak, tetapi tak ada satupun suara keluar dari mulut yang mengucap kata “Lari Eve!” tersebut. Merasa semakin lemas, kepala Lidya terkulai disertai ambruknya tangan kanan yang sedang menggapai Eve.
Mendadak dari arah hutan bergerak sebuah sosok berwarna putih yang melesat cepat ke arah Eve. Disambarnya Eve lalu dipanggul di bahu kanannya. Bergerak sangat cepat, sosok itu kembali dan melewati gapura.
Eve yang sedari tadi tidak bisa bergerak, sesaat setelah melewati gapura segera bisa menemukan suaranya, dia berteriak keras-keras ke arah Ibunya sambil menangis dan meronta-ronta meminta diturunkan.
“Ibu! Ibuuuu!”
Melihat Ibunya tidak bergerak, Eve mengalihkan pandangannya ke arah Pippi sambil berteriak.
“Pippiii!”
Pippi yang masih menahan pedang itu tersenyum ke arah Eve. Bersama dengan sampainya pangkal pedang ke tubuh Pippi, nyawa Pippipun diambil malaikat pencabut nyawa. Tubuh besar Pippi ambruk ke belakang disertai suara debum yang keras.
“Pippiiii” teriak Eve sekuat-kuatnya.
Sosok putih itu memukul pelan tengkuk Eve seraya berbisik.
“Maaf, tapi aku harus melakukan ini.”
Eve merasa badannya sangat lemas, kepalanyapun terku-lai seiring penglihatannya yang semakin gelap.