Lama tak nulis. Akhirnya pengen nulis lagi. Teman-teman masih ingat nggak sama KBM? Ingat-ingat lupa yah. KBM itu Kemah Bakti Mahasiswa - Fakultas Sastra. Kebetulan semboyan kita waktu itu di fakultas kan begini: “Ef Es U Em Paling Mbois lalala lala lala…” sambil tangan goyang ke depan, bokong lenggak lenggok kaya ulat hehehe…
Mungkin ini sekelumit catatanku waktu kegiatan KBM dulu. Itung-itung nostalgia lah. Kita yang sekarang kan ada karena masa lalu…. (ceile sentimentil…). Mulai yah laporan pandangan mata:
… Akhirnya PKPT diakhiri dengan diadakannya KBM di Desa Tlekung-Batu-Malang oleh FS-UM tanggal 27, 28, 29 Agustus 2001. Semua peserta mendapatkan stiker KBM seperti ini:

Hari Pertama (Senin, 27/08/2001) Pagi-pagi jam 06.00 WIB semua maba FS kumpul di Dema (Dewan Mahasiswa ya?-lupa) terus senam dulu dipimpin Kak Ros (Ahmad Rosyidi-Seni Rupa). Setelah kesel senam terus berangkat pukul 08.00 dengan 6 truk kecil.
Tiba di Tlekung pukul 09.00-an, ternyata wis dibangun tendanya. Setelah ngaso dan noto-noto barang barang, maka diadakanlah “Upacara Adat” oleh jurusan masing-masing. Jurusan Sastra Arab pake Bhs. Arab. Jurusan Sastra Inggris pake English, Sastra Jerman pake Deutsch (? embuh wis), pokoknya setiap jurusan pake bahasa adatnya sendiri-sendiri. Jurusan Nindistar (Seni, Desain, & Tari) aneh-aneh dhewe, pokoke selain bahasa sing gak jelas jugak pake “Hakuna Matata” dan pake coreng moreng wajah segala pake cat tembok. Jadi muka kita waktu itu pun model Rai Tembok.
Malamnya ada acara fakultas, ternyata interview (mungkin tepatnya interogasimodel kantor polisian bo..) dilanjutkan dengan bentak-bentakan di tenda eksekusi, baru “pendinginan”. Lumayan kesel tapi wis gak tak reken suara sing misuh-misuh J*NC*K, J*NC*K, J*NC*K!!! (ups sensor…) Astaghfirullah..
Keesokannya (Selasa, 28/08/2001) ada acara JALAMASA (Jelajah Alam ala Sastra) Keliling alam melewati pohon-pohon pinus di hutan Desa Tlekung yang sejuk nan indah. Aku ingat waktu itulah muncul Mars Tumo, yang liriknya kurang lebih begini:
“Di atas kepala, rambut namanya
di atasnya rambut, tumo namanya
di atasnya tumo, rambutnya tumo
di atas rambut tumo, tumonya tumo”
terus dilanjutkan dengan yel Tumo:
“TUMO!!, TUMO, TUMO, TUUUUMMMM!!!”
terus ada juga yel yang asalnya dari cuplikan & plesetan lagu soundtrack film India “Kuch-kuch Hota Hai” yang judulnya “Yeh Ladka Hai Dewana” yg ada liriknya:
“Hay hay Rehay Hoi!!, Hay hay Rey Hay…. “
(gimana ya terusannya. Mungkin teman2 masih ada yg ingat ndak ya versi lengkapnya yel kita itu, pokoknya kalo gak salah diulang sampe 3X tapi belakangnya beda gitu…)
Dengan adanya mars dan yel (plus kekompakan kita waktu itu yah) rute-rute yang sulit, naik-turun gunung rasanya gak ada artinya, kita terjang habis (maklumlah The Fresh Maba
). Tapi memang DKV waktu itu terbagi jadi beberapa regu kok (tapi aq lupa). Kebetulan dalam reguku ada narkodew juga, jadi para narkodew kita taruh di tengah, pejantan-pejantan tangguh taruh di depan dan belakang. Kita mampir di pos-pos dengan tugas berbeda-beda (kurang lebih ada 6 pos lho..). Kebetulan pos yang diampiri regu kami waktu itu sbb:
Pos 6: Tugasnya, wawancara dengan petani pinus sekitar, tapi sayang setelah mruput sana-sini regu kami gak berhasil menemukan seorang petani pinuspun, yang ketemu malah tukang rumput, akhirnya ya ndak nyambung. Tapi gakpapalah. Tiada petani pinus, tukang rumputpun jadi.
Pos 5: Tugasnya, nggarap soal tentang Ormawa (organisasi kemahasiswaan), BEMFA, Dema, dan macam2 soal itulah.
Pos 4: Ngerjakan kuis yang diberikan dalam sebuah amplop. Kebetulan regu kami kebagian kasus perampokan. Eh sayang jawaban kita salah.
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan, rencananya ke Pos 3, tapi “Lho kok sudah keliatan lokasi kemah kita ya?!” teriak salah seorang anggota regu. Padahal di kartu kendali perjalanan kita masih ada 3 pos lagi. Ternyata teman-teman “Regu kami tersesat alias salah jalur, alias kesasar. Dengan penuh ngos-ngosan akhirnya kami naik lagi ke atas untuk kembali ke “jalan yang benar”.
Pos 3: Permainan Spider Web, di antara 2 pohon dipasang jaring-jaring tali berbentuk seperti sarang laba-laba, dan setiap anggota regu kudu bisa melewati jaring tersebut dalam lubang yang berbeda-beda.. ternyata yang berhasil menembus jaring dg sukses 5 orang (total anggota regu waktu itu berapa orang ya? aku lupa)
Selanjutnya kami naik menuju Pos 2, dalam perjalanan kami menemui pertigaan, kami bingung, tapi kami putuskan untuk lurus saja karena ada tulisan “Pos 2 Lurus”. Ternyata pilihan yang keliru karena sebenarnya kami harus menggok sebentar di pos kecil, tapi wis kadung, yo kami cuex bebex kayax wong bodo… jalan teruus
Pos 2: Tampaknya ini merupakan pos terakhir, karena Pos 1 rupanya ya di lokasi perkemahan tempat kita start paginya. Di pos ini dapat tugas baksos (bakti sosial). Regu kami dapat jatah balai desa. Kebetulan! kita bisa ngiyup dan bagi tugas. Yang Laki2 ngecat, yang kodew nyebeti suket (yg tak berdosa…) dan nyapu-nyapu. Ngaso-ngaso lesehan sambil minum dan santap Kokam (tau kokam? itu..tuh jajan yang bentuknya mirim K*nt*l Kambing
)
dan berjalanlah kami menuju finish sambil melihat Kota Malang yang nampak nun jauh di sana, di bawah kita. Di tengah perjalanan kami ditahan panitia, dikira belum kerja bakti (lu kira lu siapa hah..). Setelah kami tunjukkan kartu kendali, akhirnya kami terus.
Kami adalah The First yang sampai di Bumi Perkemahan. Entah berapa regu yang kami salip tadi. yang penting kami segera ngaso sambil nunggu regu lain datang. Sayang nilai Jalamasa kami C, guoblok, dsb. Babahno, urusanmu, yang penting kami tetap ceria dengan mars TUMO kami. (kalo pas yel Tumo Katniar “Kety” kayaknya paling buanter deh).
Malamnya api unggun, lumayan anget-anget di tengah malam. Ada Kuis “Siapa Takut”, tapi aku lupa kuisnya kayak apa. Pokoknya yang menang dapat hadiah. Hadiahnya… Tepuk Tangan!!! Hampir semua peserta hanyut dalam keceriaan malam itu seolah melupakan lelahnya jalamasa di siang harinya. Kecuali beberapa anak Sastra Arab yang tampaknya menjauh dan diam saja. Mungkin mereka punya alasan pribadi…
Nah pas api unggun ini ada lagi Kerjaan panitia (yg lagi kemaruk ngerjain kita) yang coba ngerjai salah satu Rekan kita (waktu itu dia Jurusan Sujarah, sekarang Seni Tari) namanya Yul Ardianto (ki Dalang). Tampaknya ada skenario dia dituduh mencuri Kamera Canon milik Panitia, kontan saja semua terdiam dan mematung. Tapi hebatnya ni anak Memang mentalnya baja (entah ototnya kawat, tulangnya besi ndak ya) dia dengan tenangnya menangkis semua tuduhan tak berdasar panitia dengan jawaban yang realistis dan logis. Kupikir waktu itu, tampaknya panitia kehabisan argumen deh (isin…isin…). Pendapatku mungkin ndak berlebihan, mengingat hanya 2 oranglah yang bisa berbicara dalam acara gojlokan itu. Dan si “Tersangka Palsu” ini dari suaranya, keliatan kalo dia tetap tenang menghadapinya. (mudah2an dia gak baca tulisan ini hehehe…)
Hari Terakhir (Rabu, 29/08/2001) paginya ada acara sharing, semacam dengar pendapat peserta tentang pelaksanaan KBM. Pas sharing banyak pol peserta yang curahkan uneg-uneg, mulai dari “Katanya Mahasiswa Anti Militerisme… bla bla bla” sampai “Ini Ajaran Sekuler bla bla.. bla”. Tapi setelah itu kita Bal-balan together in the jungle maneh.
Acara KBM diakhiri dengan Upacara Adat lagi “Hula-hula-Wala”, dan saat itulah kita semua disiram dengan air yang sudah dicampur dengan cat dan getah pinus. Betapa kumuhnya kita saat itu..
Dan dengan truk kami pulang kembali ke kampus UM tercinta dengan selamat dan badan yang “tidak terlalu lelah”.
Sayang teman-teman, penulis tidak punya dokumentasi gambarnya. Kalo ada yang punya. Bolehlah dimuat disini untuk sekedar nostalgila hehehe.
Sekarang, kembali kerja. Ayo Semangat! Semangat! Semangat! Hiyaaaa!!!!!